Beranda Lombok Barat 37 Ribu Warga Lobar Putus Sekolah

37 Ribu Warga Lobar Putus Sekolah

BERBAGI

LOBAR —Angka putus sekolah di Lombok Barat (Lobar) terbilang cukup tinggi. Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lobar, terdapat 37 ribu warga Lobar berusia 21 tahun yang putus sekolah pada tingkat Sekolah Dasar (SD). Data itu diperoleh dengan melibatkan pihak desa.
Kabid PAUD dan Pendidikan Non Formal (PNF) Dikbud Lobar, Hj Rosdiana mengatakan, jumlah itu di luar usia di bawah 21 tahun. Sebab, untuk usia di bawah 21 tahun belum dilakukan pendataan. Sebagai solusi, anak putus sekolah ditangani melalui kejar paket A.
Dikatakan, terdapat 8.100 orang yang ditangani melalui kejar paket A. Dengan dana dari Pemkab Lobar. Sisanya sekitar puluhan ribu masih belum tertangani. “Tahun lalu, warga yang ikut ujian sebanyak 5000 ribu lebih. Ijazah belum keluar, kemungkinan tahun depan ijazah akan keluar,” ujarnya.
Antusias masyarakat mengikuti program penyesuaian pendidikan ini terbilang sangat tinggi. Tercatat dari 37 ribu itu, sebanyak 8.100 warga putus sekolah mengikuti program kejar paket.
Mengenai penanganan warga putus sekolah di bawah usia 21 tahun, Rosdiana menyebut jika hal itu menjadi kewenangan pemerintah pusat. Melalui Program Indonesia Pintar (PIP), remaja di bawah usia 21 tahun akan mengikuti program pendidikan formal di sekolah secara langsung.
Selain itu, terdapat juga progam Keaksaraan Fungsional (KF). Menyasar warga yang buta aksara di Lobar yang diperkirakan sebanyak 1.100 orang. Kemudian terdapat juga program keaksaraan usaha mandiri yang setara dengan pendidikan kelas 4 SD, diikuti 500 orang. “Total untuk program keaksaraan sebanyak 1.600 orang. Sejauh ini belum ada data jumlah warga yang masih buta aksara. Pihak BPS yang berwenang dalam hal pendataan,” lanjutnya.
Menurutnya, pendidikan non formal seperti kejar paket dan keaksaraan ini harus menjadi perhatian. Sebab hal itu menjadi kendala utama dalam perbaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Dikbud juga memiliki program Pendidikan Keluarga Masyarakat (PKM). Program ini mengajarkan masyarakat berusaha dan berkompetensi dalam bidang keterampilan. Seperti pelatihan menjahit. Ada juga program Pendidikan Kewirausahaan Keterampilan (PKK). “Sudah banyak kelompok yang dibantu oleh pusat selama tiga bulan,” pungkasnya.(win/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here