Beranda Headline Semua Ikut Berduka

Semua Ikut Berduka

BERBAGI

Data Sementara, 97 Orang Meninggal Dunia

LOMBOK – Masyarakat di tanah air ikut berduka atas berjatuhan korban jiwa pascagempa yang mengguncang NTB, Minggu malam pukul 18.46 Wita. Namun, gempa dengan kekuatan 7,0 SR terpusat di wilayah Lombok Utara yang menyebabkan ribuan rumah, sejumlah masjid, bangunan sekolah dan fasilitas lainnya rata dengan tanah. Selain di NTB, Pulau Dewata Bali juga merasakan guncangan tersebut. Di sana juga ada korban jiwa, dan sejumlah rumah roboh.

Dalam keterangan pers Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, data sementara yang berhasil dihimpun Posko BNPB mencatat sebanyak 97 orang meninggal dunia, 236 orang luka-luka, ribuan rumah rusak dan pengungsi mencapai ribuan jiwa yang tersebar di berbagai lokasi. Diperkirakan jumlah korban dan kerusakan akibat dampak gempa akan terus bertambah. Mengingat belum semua daerah terdampak gempa dapat dijangkau petugas Tim SAR gabungan. Juga terdapat dugaan adanya korban yang tertimbun bangunan yang roboh belum dapat dievakuasi oleh petugas. TIM SAR Gabungan terus menyisir daerah-daerah terdampak gempa untuk melakukan evakuasi, penyelamatan dan pertolongan kepada korban.

“Pendataan masih terus dilakukan oleh aparat,” kata Sutopo tadi malam.

Korban meninggal dunia paling banyak terdapat di Kabupaten Lombok Utara karena wilayah inilah yang parah terkena dampak gempa. Dari 97 orang meningggal dunia akibat gempa, terdapat di Kabupaten Lombok Utara 72 orang, Lombok Barat 16 orang, Kota Mataram 4 orang, Lombok Timur 2 orang, Lombok Tengah 2 orang, dan Kota Denpasar 2 orang. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Semua korban meninggal dunia adalah warga negara Indonesia. Belum adanya laporan wisatawan asing yang menjadi korban akibat gempa.

Upaya evakuasi, penyelamatan dan pertolongan kepada korban terus dilakukan oleh Tim SAR gabungan. Evakuasi korban yang tertimpa masjid roboh di Desa Lading-Lading Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara masih dilakukan. Alat berat dikerahkan sejak 6/8/2018 sekitar pukul 15.00 WIB. Satu alat berat digunakan untuk menghancurkan atap dan dinding masjid yang menimpa korban. Belum dapat diperkirakan berapa jumlah korban yang tertimpa masjid roboh. Korban saat itu sedang sholat Isya berjamaah tiba-tiba diguncang gempa dengan kekuatan 7 SR sehingga bangunan masjid roboh dan langsung menimpa jamaah di bawahnya. Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri dan relawan masih melakukan evakuasi.

Jumlah pengungsi belum dapat dipastikan. Diperkirakan ribuan pengungsi tersebar di berbagai lokasi. Bantuan juga belum dapat didistribusikan merata. Selain terbatasnya jumlah logistik yang ada, pengungsi juga tersebar di berbagai lokasi sehingga menyulitkan pembagian bantuan, khususnya di Kabupaten Lombok Utara.

Sementara itu ia juga menjelaskan evakuasi terdapat wisatawan yang ada di Gili Terawangan, Gili Air dan Meno masih dilakukan hingga malam ini. Tidak ada data resmi brapa jumlah wisatawan, baik wisatawan asing maupun domesti yang berada di di Gili Terawangan, Gili Air dan Meno. Perkiraan awal terdapat sekitar 1.000 orang. Ternyata jumlahnya lebih banyak. Tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas telah berhasil mengevakuasi sebanyak 2.700 orang wisatawan asing dan domestik dari ketiga pulau tersebut pada senin kemarin pukul 15.00 WIB. Wisatawan dievakuasi ke Pelabuhan Bangsal Kabupaten Lombok Utara menggunakan 9 kapal yaitu 1 unit kapal SAR Mataram, 1 unit KAL Belongas, 1 unit kapal SAR Denpasar, 1 unit kapal Pelni, 1 uit kapan Dharma Citra Tiga, 3 unit kapal cepat/ferry Eka Jaya, dan 1 unit kapal cepat/ferry Bali Nusa. Ribuan wisatawan dan karyawan hotel masih dalam proses evakuasi keluar dari ketiga pulau tersebut.

Evakuasi wisatawan adalah inisiatif dari wisatawan. Mereka trauma dengan guncangan gempa 7 SR yang diikuti peringatan dini tsunami. Mereka juga khawatir adanya gempa susulan yang lebih besar diikuti tsunami karena banyak beredar informasi yang menyesatkan (hoax) bahwa akan terjadi gempa dengan kekuatan 7,5 SR yang diikuti tsunami di Lombok nanti malam. Hoax tersebut beredar luar di wilayah Lombok sehingga membuat warga dan wisatawan takut. Informasi tersebut tidak benar dan menyesatkan. Gempa tidak dapat diprediksi secara pasti, berapa magnitudenya, dimana, dan kapan secara pasti. Gempa susulan dari gempa 7 SR pasti terjadi tetapi dengan intensitas yang lebih kecil. Hingga 6/8/2018 pukul 17.00 WIB telah terjadi gempa susulan sebanyak 176 kali gempa dengan intensitas kecil.

“Masyarakat dan wisatawan di NTB dan Bali kami imbau tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaannya. Jangan terpancing pada informasi-informasi yang menyesatkan,” pesannya.
Sementara di Loteng, ratusan rumah rusak akibat gempa bumi berkekuatan 7,0 SR Minggu malam (5/08). Kerusakan terparah terjadi di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara (BKU).
Tidak hanya itu, akibat gempa tercatat dua warga meninggal dunia. Yakni warga Aik Darek, Kecamatan Batukliang dan Warga Desa Pengadang, Kecamatan Praya Tengah (Prateng), kemarin.
Bupati Loteng, H Moh. Suhaili FT turun mengujungi warga yang sedang mengungsi di Desa Aik Berik, Suhaili menyampaikan masih melakukan pendataan terhadap rumah yang rusak. Namun pihaknya perkiraan hampir ratusan dan yang paling terparah di Kecamatan BKU.
“Sekarang warga sudah membangun tenda di lapang untuk mereka tinggal sementara waktu,” kata Bupati Loteng di lokasi.
Sisi lain, pelayanan pasca gempa di RSUD dan Puskesmas berubah, petugas melayani pasien di halaman depan.
“Sekarang semua para pasien dirawat di halaman. Biar mereka merasa tenang dan tetap mendapatkan penanganan medis,” sambung bupati.

Di samping itu, Rutan Praya juga melakukan upaya antisipasi. “Saat gempa tadi malam ( kemarin malam, Red) itu, seluruh warga binaan dikeluarkan dari blok sel masing-masing dan dikumpulkan di lapangan dalam rutan,” kata Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Praya Loteng, Anak Agung Gede Ngurah Putra, kemarin.
Ia menegaskan, hingga sekarang narapidana yang berjumlah 360 lebih orang itu masih dikumpulkan di lapangan. Mereka tetap akan tidur di sana untuk sementara waktu sembari menunggu kabar dari BMKG hingga kondisi terbilang aman.

Untuk membantu proses evakuasi, Korps Marinir mengirim pasukan 200 personel tergabung dalam Satgas Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (PRCPB) Marinir.

Pasukan yang berintikan tim kesehatan Marinir tersebut diberangkatkan secara bertahap. Tahap pertama pemberangkatan dilaksanakan Senin pagi kemarin melalui Bandar Udara Halim Perdanakusuma Jakarta sebanyak 100 personel dari Pasmar-1 Jakarta.

Dalam pemberangkatan yang dilepas Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI, Mayjen TNI Lodewyk Pusung tersebut, Satgas PRCPB Marinir dipimpin Letkol Laut (K) Jeffrey Agung yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Batalyon Kesehatan-2 Marinir. Pasukan ini membawa material antara lain 10 unit Perangkat Perawatan, 1 unit Perangkat dokter, 6 unit Tenda Rumkitlap, 1 unit Truk Logistik, 1 unit truk personel dan 1 unit ambulan.

Selain Pasmar-1 yang bermarkas di Jakarta, Korps Marinir juga siap memberangkatkan pasukan sebanyak 100 personel dari Pasmar-2 Surabaya. Pasukan di bawah pimpinan Wadanyonkes-2 Marinir Mayor Laut (K) Risky ini menyiapkan puluhan tenda kesehatan lapangan, alat perawatan kesehetan personel, ambulance, alat potong kayu / Sinso, alat tukang batu dan kayu, dapur lapangan, alkom jarak jauh/ HT, truk Liaz dan Voorrijder.

Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo juga dalam jumpa pers di Jakarta mengucapkan turut berduka cita atas berjatuhan korban gempa di Lombok. Sebagai sikap pemerintah, Jokowi memerintahkan pihak terkait, TNI, Polri, SAR, Kemensos, Kementerian PU, dan lainnya untuk melakukan tindakan cepat.
“Saya sudah minta semua jajaran terkait untuk bergerak cepat,” kata Jokowi, kemarin. (jho/win/jay/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here