Beranda Lombok Timur Pengolahan Air Baku Hanya Produksi 30 Liter Perdetik

Pengolahan Air Baku Hanya Produksi 30 Liter Perdetik

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA BEROPERASI: Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang dibangun Pemda Lotim melalui PDAM, untuk mendistribusikan air ke wilayah Keruak dan Jerowaru, memanfaatkan air bersumber dari Dam Pandanduri.

LOTIM – Pengolahan air baku Dam Pandanduri sudah beroperasi, memenuhi hajat hidup masyarakat bagian selatan Lombok Timur (Lotim). Pengolahan air baku yang pengelolaannya sudah diserahkan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Lotim ini, hanya memproduksi 30 liter perdetik. Bukan 50 liter perdetik. “Sementara kita produksi 30 liter perdetik dulu,” kata Rusdi, Direktur Umum (Dirum) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lotim, pada Radar Mandalika, kemarin.
Alasannya, karena penyesuaian sesuai kebutuhan di lapangan. Peningkatan jumlah produksi sampai 50 liter per detik, dilakukan bertahap. Sembari memperbaiki jaringan pipa yang ada di wilayah selatan. Sebab, banyak jaringan pipa dari Tutuk menuju Pemongkong rusak akibat perbaikan jalan.
Selain itu, pemasangan jaringan pipa untuk masyarakat wilayah selatan, terutama pelanggan yang sudah mendaftar. Apalagi, terdapat 618 pelanggan lama non aktif juga akan diaktifkan kembali. “Kita layani pelanggan yang sudah ada dan pelanggan baru dulu. Insya Allah, tahun depan kita maksimalkan. Sembari menambah jaringan pipa menuju Pemongkong,” tandas Rusdi.
Tahun ini untuk memaksimalkan distribusi air bersih ke wilayah selatan, pemerintah membangun reservoar (tempat pengolahan air) dibeberapa titik. Terdapat tiga lokasi pembangunan reservoar itu, yakni di Pemongkong, Desa Serewe dan Kaliantan. Anggarannya, sebesar Rp 3 miliar. “Makanya untuk jalur Tutuk Pemongkong, segera dilakukan pemasangan jaringan, agar distribusi air bersih cepat dinikmati masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh diungkapkan Rusdi, tahun 2019 Pemerintah Lotim memperoleh hibah dari pusat sebesar Rp 3 miliar. Dana tersebut, untuk sambungan pipa air bersih bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Nilainya, Rp 3 juta per sambungan, untuk 1000 rumah.
Program MBR ini konsen di wilayah Selatan seperti Keruak dan Jerowaru. Januari atau Februari mendatang, diperkirakan bisa dieksekusi. System pembayarannya, menggunakan dana talangan Pemda Lotim. Setelah pekerjaan selesai, baru pemerintah pusat membayar hasil pekerjaan tersebut. “Untuk diketahui, yang mendapat MBR ini tetap membayar per bulan. Hanya saja, tarif yang diberikan lebih rendah, tidak sama dengan non MBR,” pungkasnya. (fa’i/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here