Beranda Headline Melihat Keberadaan Rumah Keong di Desa Teratak Lombok Tengah

Melihat Keberadaan Rumah Keong di Desa Teratak Lombok Tengah

BERBAGI
TARNADI/RADAR MANDALIKA RUMAH KEONG: Awaludin (menggendong anaknya, Red) bersama tetangga berdiri di depan bangunan rumah keong di Dusun Montong Dao Desa Teratak, Kecamatan Batukliang Utara (BKU), kemarin.

Rumah Tahan Gempa, di Dalam Adem Seperti Ada AC

Beragam cara dilakukan warga pasca gempa bumi mengguncang Lombok dan sekitarnya. Sekarang, di warga membangun rumah keong yang diyakini tahan gempa di Dusun Montong Dao, Desa Teratak, Kecamatan Batukliang Utara (BKU). Seperti apa? Berikut uraian wartawan koran ini.
TARNADI-LOMBOK TENGAH
GEMPA bumi berkekuatan 6,2 skala richter (SR) pernah mengguncang Pulau Lombok, khususnya warga Desa Teratak, Kecamatan Batukliang Utara (BKU) Kamis, 9 Agustus lalu. Dari gempa itu, membuat duka mendalam bagi ratusan Kepala Keluarga (KK) karena harus kehilangan tempat tinggal mereka. Kondisi ini pun, masih menjadi duka lama yang masih dirasakan. Sampai saat ini, warga belum memiliki rumah yang layak.
Sementara, Rumah hunian sementara (Huntara) dan Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) masih belum bisa terwujud. Tapi di balik itu, ada penampilan rumah unik yang tidak lazim dibuat dan berdiri di sekitar kita. Rumah itu yakni, rumah keong, atau oleh sebagian orang menyebutnya rumah teletabis. Model rumah yang kerap muncul di layar televisi di era film kartun teletabis belasan tahun silam. Rumah ini, kini nyata ada di Dusun Montong Dao.
Selain unik, rumah ini tahan gempa dan ramah lingkungan. Rumah yang dibangun dari bantuan dana Muhamadiyah Disaster Management Center (MDMC) atau Lembaga Penanggulangan Bencana organisasi Muhammadiyah ini dibangun dengan cara tak biasa. Wajar, arsitektur dan tukang bangunannya pun tidak sembarang melainkan didatangkan dari luar oleh pihak MDMC.
Untuk bahan dasar tembok rumah keong ini, dibuat dari campuran pasir, semen, kapur dan tanah urug yang dimasukkan dalam karung muatan 15 kilogram beras. Karung-karung itulah kemudian disusun rapi hingga menyerupai keong. Setelah disusun rapi, baru kemudian ditempelkan jaring paku bagian luar dan dalamnya. Baru kemudian diplester layaknya bangunan biasa. Rumah keong ini berdiameter 7×8 meter yang terdiri dari empat jendela dan dua pintu. Nilai lebih dari rumah keong ini, di dalam ruangannya terasa adem layaknya ruangan berAC.
“Rumah keong ini dibangun di pondasi rumah saya dulu. Untuk di dalamnya dua ruangan mas, ruang tamu dan ruangan tidur. Adapun dapur dan kamar mandinya di design dibuatkan di luar,” tutur pemilik rumah keong ini, Awaludin yang berprofesi sebagai tukang bangunan.
Hingga saat ini, rumah keong milik Awaludin yang dibangun satu bulan pasca gempa Agustus lalu ini, masib belum tuntas dikerjakan alias masuk tahap finishing. Masih ada tahapan selanjutnya yakni pengecetan. Untuk atapnya, pemilik memilih menggunakan alang-alang. Alasannya, agar menambah keunikan rumah ini. Selain itu, untuk lantainya, akan dicat dengan berbagai motif warna. Sehingga menambahkan keunikan rumah ini.
“Alasan saya mau ketika ditawari rumah keong ini karena model ini tahan lama dan gratis. Dan waktu itu rencana pemerintah buatkan Huntara dan Risha lambat,” beber ayah tiga anak ini.
Kini, dari target 10 unit di Dusun Montong Dao, MDMC baru hanya membangun dua unit. Yang satunya baru dalam tahap penembokan. Harapannya ke depan, rumah-rumah keong ini bisa juga diproyeksikan menjadi destinasi wisata. Sehingga bisa menghasilkan omzet bagi pemiliknya. Untuk kriteria warga korban gempa yang dibangunkan rumah keong ini, rupanya juga tak sembarang. Mereka harus dari kalangan orang tua jompo, pemilik rumah memiliki anak yatim dan anak yang masih balita.
“Selain membangun Huntara, relawan MDMC juga membangunkan warga kami rumah keong ini. Mudahan sisanya yang belum bisa segera dikerjakan lagi,” sambung Kades Teratak, Mohammad Ipkan kepada Radar Mandalika, kemarin. (*/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here