Beranda Praya Metro Optimalkan Fungsi Lembaga Adat

Optimalkan Fungsi Lembaga Adat

BERBAGI
DEWAN AMAN LOTENG FOR RADAR MANDALIKA ANTUSIAS: Sejumlah warga saat mengikuti ritual nede di Desa Ganti, belum lama ini.

PRATIM —Pemerintah Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur terus memberikan porsi lebih kepada lembaga adat. Hal ini guna menguatkan kapasitas kelembagaan adat, khususnya dalam pelatihan kepembayunan, baca lontar, hingga melestarikan tradisi nenek moyang dalam budaya dan ritual Nede.
Ketua Lembaga Adat Sasak Lawas Ganti, Lalu Purne mengatakan, salah satu tradisi yang dipertahankan dan dilestarikan oleh lembaga adat bersama masyarakat desa setempat yakni ritual Nede yang dirayakan pada akhir November lalu. Bahkan, ritual yang digelar setiap tahun pada setiap Senin, bulan ketujuh hitungan kalender Sasak di wilayah Dusun Mbung Puntik, Desa Ganti tersebut kembali digelar Februari mendatang.
“Kegiatan ini disambut antusias ribuan masyarakat dari 30 dusun. Anak-anak hingga orang dewasa pun atusias,” terangnya.
Ia menambahkan, tradisi Nede yang diyakini masyarakat sebagai momentum memohon keselamatan kepada Sang Pencipta ini dirangkai dengan berbagai acara ritual. Hal ini guna memohon kesehatan dengan mandi menggunakan mata air ‘Embung Mas’ yang ada di sebuah sumur di lokasi makam salah satu leluhur dengan dipandu oleh para Mangku sekurang-kurangnya 26 orang.
“Setelah itu, warga biasa mandi menggunakan mata air sumur Embung Mas di sumur dekat makam ini. Air sumur ini diyakini masyarakat bisa menyembuhkan dan terhindar dari segala macam penyakit,” ulasnya.
Selain itu, untuk air sumur yang dipandang keramat dan sempat diadakan ritual ini. Para petani kerap menggunakannya untuk menyirami tanam-tanaman milik petani, seperti padi dan tembakau.
“Alhamdulillah, buktinya petani tidak pernah sampai gagal panen jika sudah ada diairi dari sumur keramat ini,” bebernya.
Sementara itu, Sekdes Ganti, M Anhar mengaku, kegiatan pembinaan ke lembaga adat dan melestarikan budaya sasak seperti ritual Nede ini harus terus digaungkan. Sebab kegiatan ini merupakan suatu kekhasan di masing-masing wilayah. Apalagi, dalam kegiatan ini banyak sajian makanan khas masyarakat, di samping menggunakan dulang khas Sasak untuk membawa makanan masing-masing usai adanya ritual ini dilakukan. Usai pelaksanaan ritual dan mandi di sumur, warga kemudian menyantap makanan yang sudah disediakan sejak awal.
“Ini bukti bahwa suasana kekeluargaan dalam tradisi adat Sasak masih kental di era modern saat ini,” pungkasnya. (fiz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here