Beranda Headline Cerita Ahmad Gilang, Bocah Penderita Ensefalitas

Cerita Ahmad Gilang, Bocah Penderita Ensefalitas

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA TERBARING: Beginilah kondisi Gilang yang hanya terbaring di Huntara miliknya di Desa Dopang Kecamatan Gunung Sari.

Lahir Normal, Kondisi Memburuk Hingga Harus Putus Sekolah

Ahmad Ihsan dan Annisa tidak menyangka buah hatinya yang dulu terlahir normal kini lumpuh dan tak berdaya. Penyakit Ensefalitas atau kanker otak membuat bocah kelas 4 SD itu terpaksa harus putus sekolah.
WINDY DHARMA-LOMBOK BARAT
AHMAD Gilang Ramadhan hanya bisa terbaring di berugak yang disulap menjadi Hunian Sementara (Huntara) di Dusun Ranjok Utara, Desa Dopang, Kecamatan Gunungsari. Bocah berusia sekitar 9 tahun itu harus mengubur dalam-dalam impiannya menempuh pendidikan setinggi langit. Setelah terserang Ensefalitas yang membuat seluruh tubuhnya lumpuh.
Lahir dan tumbuh dengan normal, orang tua Ahmad Gilang Ramadhan tak pernah menyangka nasib malang akan menimpa putranya. Gilang harus terbaring sepanjang hari di Huntara setelah divonis mengidap penyakit radang otak atau Ensefalitis.
Ditemui di kediamannya, bocah malang itu hanya terbaring melihat atap huntaranya. Sangat sulit baginya untuk bisa berbicara kembali. Kedua orang tuanya hanya bisa memandangi wajah anaknya. Raut sedih terpancar melihat kondisi si buah hati tak berdaya.
Sang ayah, Ihsan mengaku penyakit itu menyerang Gilang saat duduk di bangku kelas III SD, saat akan naik kelas IV. Saat itu ia mulai melihat ada yang tidak beres dengan anaknya. Muncul gejala tidak normal hingga membuat bocah itu seperti pincang.
“Saya bawa ke tukang urut tapi tidak ada perubahan. Sehingga saya bawa ke Puskesmas yang kemudian dirujuk ke RSUP NTB,” ceritanya.
Dari pemeriksaan di rumah sakit itu, anaknya divonis menderita penyakit Ensefalitis. Penyakit yang dikenal dengan nama radang otak itu disebabkan virus yang menyerang kekebalan tubuh anak-anak, hingga merusak syaraf otak. Diduga masuk lewat makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Selama enam hari dirawat di RSUD provinsi, Gilang diperbolehkan pulang. Kondisinya dinilai sudah mulai membaik oleh pihak rumah sakit. Sayangnya, setelah beberapa hari di rumah, kondisi Gilang terlihat makin parah.
“Kalau awal-awal dulu bisa dia berjalan dan bicara. Sekarang sudah tidak bisa bergerak atau bicara lagi,” ungkap Ihsan.
Berniat membawa kembali buah hatinya berobat ke RSUP NTB. Namun ia merasa kerepotan mengurus kembali rujukan dari puskemas, baru bisa dirujuk kembali ke RSUP NTB. Ditambah harus menunggu lama di RSUP untuk dapat dilayani. “Aturan yang ada berbelit-belit dan menyusahkan masyarakat. Belum lagi nanti menunggu di rumah sakit provinsi. Menunggu dokter spesialis di sana, kami datang jam 6 pagi, jam 12 ke atas baru bisa dilayani. Itu pun nanti pulangnya sampai sore,” bebernya.
Ihsan lebih memilih membawa anaknya berobat terapi gerak di RSJ Mutiara Sukma. Di sana ia mengaku mendapatkan pelayanan yag cukup baik. Meski, kondisi Ahmad Gilang yang sudah terlanjur parah tak bisa sembuh hanya dengan terapi gerak di RSJ Mutiara Sukma.
Kini Gilang hanya bisa terbaring sepanjang hari di Huntara sederhana. Setelah rumahnya rusak parah akibat gempa. Hingga saat ini belum jelas kapan rumahnya akan dibangun dari bantuan pemerintah pusat.
“Iya cuma bisa tidur saja. Untuk makan harus disuapi karena Gilang tak bisa mengunyah. Makanannya juga harus dihaluskan dengan blender,” timpal Annisa, sang ibunda.
Kini, Ihsan dan Annisa hanya bisa mengharapkan keajaiban anak mereka bisa sembuh seperti sediakala. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here