Beranda Headline Modal 37 Juta, Omzet Tembus 4,3 Miliar

Modal 37 Juta, Omzet Tembus 4,3 Miliar

BERBAGI
JHONI SUTANGGA /RADAR MANDALIKA INDAH: Sejumlah peserta Kunker Humas dan Protokol Provinis NTB, saat melintasi di jembatan terbuat dari bampu di kampug Mataraman, Panggungharjo Sewon Bantul Yogyakarta, Rabu lalu.

MATARAM – Badan usaha milik desa (Bumdes) Panggungharjo Sewon Bantul, Yogyakarta menjadi Bumdes terbaik di Indonesia tahun 2017. Pasalnya, Bumdes yang mulai bergerak pada 2013 dengan hanya suntikan modal dari desa sebesar 37 juta, kini omzet mencapai 4,3 Miliar bahkan untuk Bumdes itu telah didatangi dua kali oleh KPK untuk mengecek secara langsung model pengembangan Bumdes yang bisa dibilang seumur jagung itu, pendapatannya hampir menyamai BUMD PT Gerbang Emas NTB yaitu 4,7 M.

Dirut Bumdes Panggungharjo, Eko Pambudi sedikit bercerita dimana setelah mendapatkan suntikan dana pertama lalu pada tahun kedua kembali mendapatkan penyertaan modal sebesar 150 juta dari desa sehingga total penyertaan modalnya hanya Rp 280 juta.
Mengembangkan Bumdes bermula dari persoalan desa setempat yaitu sampah. Dimana pengelolaan limbah sampah baik organik maupun non organik menjadi unit usaha pertama yang dikembangkan. Untuk organik seperti sayur sayuran dan buah buatan diolah menjadi pupuk untuk kebutuhan semisal untuk pertanian, begitu juga dengan sampah non organik dikemas kembali untuk dijual. Seiring berjalan waktu dikembangkan jenis usaha lain yaitu kampung Mataraman, sebuah wisata edukasi yang memanfaatkan pemandangan seadanya namun dikelola dengan baik. Objek wisata kampung yang berdiri di luas lahan 1,8 hektare (4,2 hektare belum dikelola) ditengah kota itu menjadi salah satu pendapatan besar Bumdes tersebut. Kampung Mataraman menghasilkan omset Rp 3,134. 428.454 miliar. Dari makanan dan minuman Rp 3,232,829,550 dan pendapatan sewa tempat Rp. 119.582.500.
Di objek wisata ini telah menyerap 49 karyawan dan keseluruhan karyawan milik Bumdes ini sebanyak 89 karyawan di lima unit yang dikembangkan.
Tiga unit lainnya selain pengolahan sampah dan wisata edukasi juga agro pertanian, swalayan desa dan UCO. Untuk agro pertanian Bumdes menjual beras Lestari, beras yang dihasilkan dari hasil pertanian masyarakat setempat. Menurut Eko pemerintah desa menguatkan aturan desa agar petani tidak menjual gabah ke tengkulak. Tidak saja hasil panen padi masyarakat yang memiliki hasil panen lainnya juga dia komodir oleh Bumdes tersebut.

Eko menjelaskan untuk gaji karyawan tergantung dari analisa jabatan. Karyawan biasa digaji 1,3 juta, Kepala unit usaha digaji 2,5 juta dan direktur melebihi gaji kepala desa.
“Kalau Kades terima 4,2 juta maka gaji direktur diatas nya,” jelas Eko saat menerima kunjungan kerja DPRD NTB bersama Humas Provinsi NTB di Yogyakarta, Rabu (28/11) lalu.
Karyawan selain mendapatkan gaji bulanan juga diberikan tunjangan, insentif. Insentif dilihat dari tingkat kerajinan masuk kerja. Untuk CSR yang dialokasikan 5 persen dari omset diperuntukkan membangun Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) desa setempat. Sementara 20 persen diberikan bonus bagi para manager.
Dengan perkembangan Bumdes itu ada komposisi kepemilikan saham diamana 40 persen saham dimiliki Pemdes dan sisanya untuk masyarakat sendiri.

Eko menyampaikan dalam mengembangkan Bumdes itu menempatkan tiga konsep, ekonomi, sosial dan politik. Ekonomi bicara Bumdes mendapatkan profit melalui semua jenis usaha. Sosial merangkul SDM desa setempat bahkan beban berat dari Bumdes itu harus bisa mengatasi kemiskinan sesuai data BPS diangka 1200 jiwa dari total penduduk sekitar 20 ribu jiwa. Terakhir menerapkan sistem politik yaitu membangun asas demokrasi alias ada hak masyarakat dalam perjalanan Bumdes tersebut. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here