Beranda Headline Menimba Ilmu di Bekas Lokasi Bencana Taiwan

Menimba Ilmu di Bekas Lokasi Bencana Taiwan

BERBAGI
OBJEK WISATA: Seorang pengunjung menyaksikan atap sekolah yang runtuh dari jembatan yang dibangun di atas reruntuhan. (FATHONI P. NANDA/JAWA POS)

Abadikan Sekolah yang Ambruk Jadi Museum Gempa

Gempa dahsyat tak cukup hanya dikenang. Tapi, perlu dijadikan bahan ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari siapa pun. Itulah yang dilakukan Taiwan lewat museum gempa di Taichung. Berikut laporan FATHONI P. NANDA yang baru saja mengunjungi Taiwan.
FATHONI P NANDA-JAKARTA

SEPTEMBER 1999 menjadi memori yang sangat pahit bagi Taiwan. Tanggal 21 di bulan itu gempa berkekuatan 7,3 SR (ada juga yang menyebut 7,6 SR) mengguncang seluruh bagian negara yang bentuknya mirip ketela pohon tersebut. Lebih dari 2.400 korban dilaporkan meninggal. Sementara itu, lebih dari 100 ribu warga kehilangan tempat tinggal.
Banyak gedung yang ambruk, bahkan rata dengan tanah. Namun, di Taichung, salah satu kota di bagian tengah Taiwan, ada bangunan SMP yang tidak seluruhnya ambruk. Sebagian masih tampak berdiri meski harus ditopang dengan besi-besi penyangga baru. Mayoritas atap beton ruang-ruang kelas ambruk, menimpa meja dan kursi yang ada di bawahnya.
Sulit dibayangkan nasib para siswa seandainya mereka sedang belajar saat gempa terjadi. Untung, gempa terjadi pada pukul 01.47 sehingga tidak satu pun pelajar sekolah Kuang-Fu itu menjadi korban.
Gempa dahsyat Taiwan memang sudah berlalu 19 tahun. Namun, siapa pun yang datang ke Taichung masih bisa melihat, bahkan seperti merasakan, bencana alam itu. Sebab, pemerintah Taiwan menjadikan sekolah yang berada di Wu-Feng, pinggiran Kota Taichung, tersebut sebagai museum gempa.
Jawa Pos yang tergabung dalam program Taiwan Study Camp for Future Leader mengunjungi museum gempa di Taichung pada 18 November 2018. Museum yang diberi nama The 921 Earthquake Museum of Taiwan itu dibuka kali pertama pada 13 Februari 2001. Namun, seluruh konstruksi bangunannya baru selesai pada 2007. “Semua bangunan di sekolah ini rusak karena gempa. Tapi, tidak rata dengan tanah,” kata Po-Cun Huan, seorang petugas pendamping peserta program Taiwan Study Camp for Future Leader.
Kedahsyatan gempa 1999 memang tergambar jelas saat mengunjungi museum gempa Taiwan. Deretan bangunan tiga lantai yang merupakan ruang-ruang kelas tampak ambruk sebagian. Bahkan, ada yang ambles, nyaris rata dengan tanah. Meja, kursi, dan kipas angin yang ada di dalam kelas tersebut masih tetap ada. Sengaja dibiarkan sebagai gambaran ruang kelas sekolah dasar.
Pemerintah Taiwan membangun tangga dan jalur dari kayu bagi para pengunjung untuk melihat lebih dekat sisa-sisa dampak gempa. Jalur itu naik ke atas bangunan gedung sehingga dampak kerusakan bisa dilihat dari atas. Pengunjung pun tak perlu khawatir terkena panas atau hujan lantaran bekas sekolah itu dipayungi semacam tenda raksasa dengan rangka besi.
Museum itu juga menyediakan ruangan-ruangan untuk belajar tentang gempa. Saat kali pertama masuk, terpampang sebuah bola dunia dengan guratan-guratan menyala yang menggambarkan lempeng-lempeng bumi. Di peta bola dunia itu ditunjukkan bahwa Taiwan berada di atas dua lempeng bumi aktif sehingga rawan terkena gempa.
Di ruangan yang sama, foto-foto dampak gempa 1999 juga dipajang. Tanah di area persawahan yang terbelah, bukit yang seperti diiris, jembatan putus, hingga kendaraan-kendaraan yang rusak.
Pengunjung juga bisa main-main dengan peralatan simulasi gempa yang menyenangkan. Misalnya, alat untuk mengetahui kekuatan gempa. Tinggal pukul meja yang sudah disediakan, monitor televisi di alat simulasi itu langsung menunjukkan diagram getaran dan angka magnitudo yang ditimbulkan.
Gambaran tentang pergerakan lempeng bumi juga bisa dipahami dengan cara mudah di tempat simulasi. Setiap pengunjung bisa menarik tali atau menekan tuas yang telah disediakan. Selanjutnya, tiga kubus yang merupakan miniatur lempeng bumi akan menunjukkan tiga jenis pergeseran. Ke bawah, ke samping, dan ke atas.
Di ruangan lain, museum menyajikan alat simulasi untuk menunjukkan jenis konstruksi bangunan yang tahan guncangan gempa. Empat miniatur konstruksi gedung bertingkat dengan ketinggian 20 cm sampai 50 cm tampak berdiri di atas papan yang bisa bergoyang. Miniatur itu dibuat dari pelat-pelat besi kecil yang disusun menggunakan sistem damping technology. Di setiap pertemu¬an rangka besi diberi damper untuk meredam getaran. Di depannya ada tombol untuk menyalakan mesin simulasi gempa.
Saat tombol dipencet untuk simulasi gempa ringan, miniatur bangunan itu hanya bergetar. Namun, saat disimulasikan gempa besar, miniatur bangunan itu akan bergoyang ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Tidak ada yang ambruk ataupun patah karena damping technology yang diterapkan di konstruksi tersebut.
Yang tak kalah menarik adalah alat simulasi pengamanan public utilities ketika gempa terjadi. Museum menyajikan miniatur yang menggambarkan mekanisme pengamanan arus listrik, suplai gas, dan jalur kereta api. Untuk menjalankan simulasi, pengunjung diminta melompat ke sensor getaran yang telah disediakan. Selanjutnya, dampak gempa akan terlihat di miniatur kota. Bukit tampak ambles, lampu-lampu yang menyala langsung mati, suplai gas berhenti, dan kereta api yang sedang berjalan juga berhenti. Semua itu merupakan reaksi spontan yang sudah didesain agar dampak gempa tidak semakin parah akibat kebocoran gas, kecelakaan kereta, atau bahaya listrik.
Di luar berbagai peralatan simulasi yang “menyenangkan” untuk dinikmati itu, museum juga menyediakan berbagai fasilitas lain. Di antaranya, teater besar yang memutar film tiga dimensi, deretan monitor televisi yang terus-menerus memutar proses evakuasi korban gempa, serta deretan foto keluarga korban sebelum dan sesudah gempa terjadi.
Ada juga foto tentang siswa-siswa sekolah ketika gempa belum terjadi yang disandingkan dengan suasana gedung setelah gempa terjadi. “Semua difoto di tempat yang sama dengan waktu berbeda. Supaya kita bisa melihat dan mengenang mereka,” ujar Po-Cun Huan.
(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here