Beranda Headline Hutan Gundul, Gubernur Diminta Tegas

Hutan Gundul, Gubernur Diminta Tegas

BERBAGI
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA I Made Slamet

MATARAM – Penebangan hutan secara illegal di Pulau Sumbawa menjadi perhatian khusus wakil rakyat di DPRD Udayana. Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Zulkieflimansyah diminta tegas dalam menyikapi kerusakan hutan di Pulau Sumbawa dan lainnya.
Sekretaris Fraksi PDIP DPRD NTB, I Made Slamet melihat dampak penebangan hutan yang mengakibatkan gundul, selain kelestarian hutan merupakwan satu satunya warisan untuk anak cucu kita, ini juga mengancam nyamawa penduduk setempat dengan datangnya berbagai bencana seperti banjir dan longsor.
Apalagi saat ini, tingkat kerusakan hutan di Pulau Sumbawa terbilang parah. Selain maraknya ilegal logging (pembalakan liar), di Pulau Sumbawa juga trend terjadi pembakaran hutan/gunung.
“Kalau dibiarkan, akan berdampak longsor,” tegas Made di Mataram, kemarin.
Hutan sebetulnya ‘pembunuh berdarah dingin’. Ketika dia dirusak maka akan sangat tersakiti. Untuk itu, Made berharap kepemimpinan gubernur yang baru ini, dapat memilih sosok kepala dinas mampu kreatif ataupun inovatif.
“Yang jelas harus berani,” tegasnya Made Slamet.
Diketahui, hutan seluas 316 hektare di NTB gundul dan ditanami jagung oleh masyarakat di Pulau Sumbawa. Data yang dimiliki Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, di Sumbawa saja yang sudah ditanam jagung mencapai 900 ha, sementara di Dompu dan Bima mencapai puluhan ribu ha gundul. Kondisi ini menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor tidak bisa terkendali. Data lahan kritis di NTB berjumlah 578 ribu hektare atau 28 persen dari luas hutan di NTB data itu berdasarkan data 2013. Namun riilnya, hutan dimana hutan virgin terus menurun. Sampai tahun 2017 ada 316 ribu hektare hutan yang rusak. Dengan kondisi itu jika terjadi hujan dalam waktu satu hari satu malam dipastikan banjir terjadi.
“Potensi bencana masih cukup tinggi,” kata Kadis LHK NTB, Madani Mukarram belum lama ini. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here