Beranda Headline 50 Miliar untuk Atasi Stunting

50 Miliar untuk Atasi Stunting

BERBAGI
JAYADI/RADAR MANDALIKA KOMITMEN: Wakil Bupati Loteng, HL Pathul Bahri saat membuka Workshop koordinasi kabupaten generasi sehat dan cerdas (GSC) di D’ Max Hotel, Sabtu (1/12).

PRAYA — Pemkab Lombok Tengah (Loteng) komitmen dalam memerangi kasus kerdil atau stunting. Komitem itu dibuktikan dengan dilaksanakanya Worskhop koordinasi kabupaten generasi sehat dan cerdas (GSC) untuk meningkatkan pemahaman dan komitmen Pemkab dalam memerangi Stunting di D’Max Hotel, Sabtu (1/12).
Wakil Bupati Loteng, HL Pathul Bahri yang hadir di acara itu menyampaikan, sekarang pemerintah harus memikirkan bagaimana cara melakukan pencegahan penyakit stunting. Sebab, warga orang yang kenak kasus stunting sekarang makin bertambah. “Stunting sangat erat kaitanya dengan angka kemiskinan,” kata Pathul.
Pathul menegaskan, kebanyakan stunting biasanya bisa terdeteksi saat anak berusia 1.000 hari atau sekitar dua tahun, dimana terdeteksinya penyakit tersebut karena pada usia dua tahun itulah ada sebuah penomena yang menuju pemusatan.
“Permasalahan ini bisa kita selesaikan dengan cara kita harus bersinergi. Karena hampir 35 ribu masyarakat kita yang tidak pernah terdeteksi malah mengalami stunting,” ungkapnya.
Sehingga, pencegahan stunting ini harus segera dimulai, karena sama artinya dengan bagaimana menurunkan angka kemiskinan karena memang dari tahun 2017 angka kemiskinan di Lombok Tengah yang mencapai 15,3 persen hanya bisa mengalami penurunan 0,49 persen.
Pathul mengaku, untuk tahun 2019 mendatang Pemkab telah menganggarkan Rp 95 miliar untuk penentasan kemiskian. Dimana Rp 50 miliar dari dana khusus untuk mencegah penyakit stunting. Tapi pihaknya mengakui bahwa dengan anggaran masih belum cukup, sehingga pada tahun 2019 pihak desa maupun dinas ditekan untuk memberikan kontribusi dengan segala program mereka sendiri.
“Kita memiliki 139 desa. Makanya saya tekan satu desa memprogramkan untuk rumah tidak layak huni agar kedepan tidak adalagi kita temukan rumah warga yang tidak layak,” perintahnya.
Dia menjelaskan, dari anggaran Rp 95 miliar tersebut, selain untuk fokus penanganan stunting, namun Rp 21 miliar dikhususkan untuk ibu hamil, hal itu dilakukan karena memang selama ini penyebaran stunting tidak terlepas dari bagaimana pola penanganan ibu hamil.
“Jadi untuk tahun 2019 ini, kita tidak berbicara kepada infrastruktur akan tetapi anggaran Rp 95 miliar melekat di tengah masyarakat. Nantinya untuk kader posyandu ada 4,49 miliar,” tegasnya.
Wabup mengungkapkan, belum tertanganinya kasus stunting secara baik, karena memang kurangnya koordinasi dengan setiap element yang ada yang berada di semua tingkatan, disatu sisi masih minimnya kampanye tentang bahaya penyakit tersebut. “Makanya kami juga sudah berdiskusi untuk bagaimana membuat Perda,” katanya.(jay/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here