Beranda Praya Metro 7 Ribu e-KTP Belum Dicetak, Dukcapil Lembur

7 Ribu e-KTP Belum Dicetak, Dukcapil Lembur

BERBAGI
JAYADI/RADAR MANDALIKA Baiq Anita Nindiana

PRAYA -Kepala Dinas kependudukan dan catatan sipil (Dukcapil) Lombok Tengah (Loteng) Baiq Anita Nindiana membeberkan, terdapat 7 ribu e-KTP belum tercetak dampak 10 hari server diblokir pihak Kemendagri RI. Akibatnya, pihak Dukcapil akan lembur mengatasi persoalan yang menjadi kebutuhan masyarakat.

“Saya informasikan bahwa server jaringan online pelayanan kependudukan, untuk e-KTP dan layanan pindah datang sudah kembali normal. Blokir langsung dibuka setelah beberapa jam saya dilantik,” ungkap Baiq Anita Nindiana kepada wartawan di ruang kerjanya, kemarin.
Anita menyatakan, selain itu beberapa persoalan akan diselesaikan pasca diblokir server di antaranya penyelesaian dokumen yang menumpuk. Sebab, ada ribuan dokumen terutama KTP yang masih menumpuk harus segera diselesaikan. Masalah lainnya adalah, soal calo yang sangat mengakar di dinas tersebut akan disikapi. Bagi Anita, calo gampang diberantas jika masyarakat mengurus sendiri dokumennya.
“Kami janji akan memberikan pelayanan terbaik,” janjinya.
Dia menegaskan, pihaknya mencatat sekitar 90 persen warga wajib e-KTP sudah merekam data untuk mendapatkan kartu elektronik atau e-KTP. Dan Pemkab Loteng termasuk wilayah penyumbang terbesar warga yang merekam data e-KTP hingga saat ini.
Untuk jumlah warga Loteng yang wajib KTP sejumlah 7 ribu lebih dari jumlah penduduk 1.037 093 jiwa. Sedangkan sudah perekaman 686,362 dan yang belum perekmana 66,524. Dan paling banyak warga yang pelum punya kartu KTP seumur hidup itu adalah di Kecamatan Pujut.
“Kami berupaya perekaman e-KTP ini mencapai 100 persen akhir tahun ini,” harapnya.
Baiq Anita Nindiana mengatakan, belum tuntas 100 persen perekaman data e-KTP ini, disebabkan banyak faktor, di antaranya alat perekam e-KTP yang ada di setiap kecamatan tidak berfungsi secara maksimal karena sering rusak, jaringan internet di kecamatan tidak optimal dan daya listrik yang tersedia di kantor kecamatan juga terbatas. Hal ini menyebahkan kegiatan perekaman data e-KTP di kantor kecamatan tidak dapat dilaksanakan secara optimal. Bahkan, ada alat rekam e-KTP yang rusak berbulan-bulan dibiarkan, dan tidak dilakukan diperbaikan, sehingga proses perekaman data di kecamatan bersangkutan terhenti total. Parahnya juga kebanyakan tempat tinggal masyarakat cukup jauh dari kantor kecamatan setempat. Sehingga mereka harus meluangkan waktu datang ke kantor kecamatan untuk merekam data e-KTP.
“Masih banyak warga yang belum perekaman,” ujarnya.
Dia mengaku, untuk menggenjot agar warga 100 persen melakukan perekaman, pihaknya sudah melakukan banyak cara. Salah satunya dengan menjemput bola. Pihaknya rutin turun hingga ke desa-desa untuk melakukan perekaman e-KTP.
“Agar semua warga memiliki e-KTP, kami akan lakukan perekaman keliling dari desa ke desa,” janjinya.
Dijelaskan, langkah yang dilakukan ini merupakan upaya agar warga yang berada di pedesaan yang belum sempat merekam data dapat segera merekam data. Sebab itu, dia berharap warga yang ada di desa – desa yang didatangi dan yang belum melakukan perekaman data, agar bisa aktif mendatangi petugas saat datang ke desa.
“Kegiatan rekam data e-KTP keliling ini akan rutin kami gelar,” janjinya lagi. (jay/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here