Beranda Headline Penyakit Hantui Pengungsi Dayan Gunung

Penyakit Hantui Pengungsi Dayan Gunung

BERBAGI
Ahmad Rohadi/Radar Mandalika TINGGAL DI PENGUNGSIAN: Salah satu keluarga yang masih tinggal di tenda pengungsian. Saat hujan tiba, tendanya selalu terendam air.

KLU —Memasuki musim penghujan, ribuan warga hingga kini masih tinggal di tenda pengungsian. Mereka tidur berlaskan tikar dan beratap terpal. Mereka dihantui berbagai macam wabah penyakit yang sewaktu-waktu dapat membahayakan nyawa mereka.
Kabid Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Lombok Utara, Datu Madya menyampaikan, perlu banyak sosialisasi kepada masyarakat dalam mengantisipasi musim penghujan saat ini. Hal ini agar masyarakat di pengungsian menjaga kebersihan lingkungan sehingga tidak mudah terkena gangguan penyakit. Dimana, di tengah musim hujan saat ini beragam penyakit bisa menyerang. Misalnya diare, malaria bahkan ISPA.
“Kita perlu untuk melakukan kaporitisasi dan abatesasi terhadap air sumur dan bak penampungan warga. Ini untuk meminimlisir penyebaran bakteri dan virus yang menyebar dalam bak air warga, karena ini juga bisa berpotensi menimbulkan diare,” jelasnya.
Ia juga mengaku, sejak bencana gempa lalu hingga saat ini telah banyak ditemukan kasus, baik diare ataupun ISPA. Namun khusus untuk malaria, belum mendapat laporan dari masing-masing Puksemas.
“Diare biasanya rentan menyerang karena kebiasaan meminum air mentah yang belum dimasak,” ungkapnya.
Musim hujan yang mulai turun saat ini juga bisa memicu berkembangnya sarang nyamuk. Lebih-lebih di pengungsian yang tidak memiliki saluran drainase yang lancar, adanya titik-titik air yang mengendap di satu tempat bisa memicu tempat perkembangbiakan nyamuk.
“Serangan penyakit DBD juga perlu diantisipasi,pada peralihan musim saat ini,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu pengungsi di Dusun Trengan Lauq, Desa Pemenang Timur, Nurani mengaku khawatir dengan peralihan musim saat ini. Namun dirinya pasrah dan tetap memilih untuk tinggal di tenda pengungsian.
“Belum berani ke rumah. Trauma mas. Gempa susulan juga masih ada sampai saat ini,” bebernya.
Menurut dia, menetap di tenda tentu serba salah karena ketika hujan air pun tergenang di tenda. Sehingga harus terpaksa untuk mengangkat sementara barang-barang yang tergeletak di atas tanah. Saat ini, dia tinggal di tenda bersama 20 lebih kepala keluarga yang ada di pengungsian masih tetap bertahan. Karena saat ini rumah masih rusak parah dan belum dibongkar. Di samping itu hunian sementara yang layak belum menyentuh. (dhe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here