Beranda Headline Azizah Putri Handayani, Bocah Pengidap Penyakit Hidrosefalus Asal Desa Kawo (2-Habis)

Azizah Putri Handayani, Bocah Pengidap Penyakit Hidrosefalus Asal Desa Kawo (2-Habis)

BERBAGI
TARNADI/RADAR MANDALIKA PASRAH: Azizah Putri Handayani, 2 tahun saat dijaga sang kakak Dedi Sudayat.

Sejak Tahun 2017 jadi Piatu, Keluarga Sekarang Pasrah

Dalam kondisi yang memprihatinkan, Azizah Putri Handayani harus kehilangan sosok sang ibundanya tercinta. Sehingga Kakak sulungnya, Dedi Sudayat harus merelakan hari-harinya untuk merawat sang adik yang hanya bisa terbaring kaku di tempat tidurnya. Berikut catatan Radar Mandalika.
TARNADI-LOMBOK TENGAH
KASIH sayang sang ibu tak bertahan lama dirasakan oleh Azizah Putri Handayani. Bocah pengidap penyakit Hidrosefalus Asal Dusun Buntereng, Desa Kawo, Kecamatan Pujut itu kehilangan ibundanya bernama Hidayati untuk selama-lamanya pada Hari Sabtu, 23 September 2017 lalu. Dengan menyandang status anak piatu, tiga kakaknya Azizah, Dedi Sudayat, Robi Suganda dan Martadinata Subagya bersama sang ayah, Sukardi harus berjuang untuk kesembuhan bocah yang lahir Senin tanggal 11 Januari 2016 ini.
Sejak lama, kondisi ekonomi keluarga sangat pas-pasan. Apalagi sang ayah hanya berprofesi sebagai buruh tani. Dimana ayahnya mencari rezeki banting tulang untuk biaya pengobatan Azizah selama ini. Termasuk untuk biaya sekolah dua anaknya yang masih sekolah. Kalaupun dari hasilnya itu, hanya bisa untuk sekadar biaya berobat saja, serta untuk membayar biaya bulanan kartu BPJS Mandiri Azizah. Itu tidak mampu membiayai biaya operasinya yang menurut keterangan dokter akan menghabiskan dana sebesar Rp 40 juta lebih. Maklum saja, BPJS Mandiri yang dimiliki yakni, BPJS Mandiri kelas 3.
Kabarnya, operasi itu menyembuhkan penyakit Azizah. Tidak semudah yang dibayangkan, Azizah hanya bisa dioperasi ketika berat badannya mencapai 10 kilogram ke atas. Sedangkan saat ini, berat badannya hanya mentok pada angka 8,1 kilogram. “Saat ini Azizah masih dalam tahap pemulihan berat badan. Tapi kalaupun berat badannya normal, kami tidak bisa langsung membawanya karena biaya belum ada mas,” kata Dedi Sudayat, kakak sulung Azizah.
Selama 2 tahun 10 bulan mengidap penyakit mematikan ini, Azizah sudah cukup kuat berjuang walau setiap nutrisi susu yang selalu dia minum tak bisa mengembalikan kondisi tubuhnya yang semula. Seperti ketika umurnya belum tiga bulan. Dalam kurun waktu dia sakit ini, banyak yang menyalurkan bantuan ke keluarganya. Mulai dari Dinas Sosial, BNPB, Dinas Ketahanan Pangan Loteng, yayasan sosial dan lainnya. Namun, jumlahnya tak seberapa dan hanya untuk biaya control ke RSUD Praya. Namun tetap disyukuri.
Selama ini, dia melakukan control ke rumah sakit tiga kali dalam sebulan. Kini, keluarga hanya bisa pasrah dan berharap ada pihak dermawan yang mau membiayai dana operasi Azizah. Termasuk dari Pemkab Loteng.
“Kami sudah pasrah, kami tak punya ladang pertanian seperti kebanyakan warga di sini,” cerita Sukardi, ayah Azizah yang juga mantan Kadus Buntereng ini. (*/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here