Beranda Headline Azizah Putri Handayani, Bocah Pengidap Penyakit Hidrosefalus Asal Desa Kawo (1)

Azizah Putri Handayani, Bocah Pengidap Penyakit Hidrosefalus Asal Desa Kawo (1)

BERBAGI
TARNADI/RADAR MANDALIKA MENUNGGU KEAJAIBAN: Azizah Putri Handayani, 2 tahun bocah mengidap penumpukan cairan di dalam otak (hidrosefalus) tengah berbaring lemas di hadapan kakaknya, Dedi Sudayat, kemarin.

Muncul Saat Berusia Tiga Bulan, Sekarang Kepala Besar dan Keras

Kondisi Azizah Putri Handayani, 2 tahun dari Dusun Buntereng Desa Kawo, Kecamatan Pujut cukup memprihatinkan. Dimana, sejak tiga bulan lahir gejala penyakit mematikan itu menyerang dia. Hingga di usianya 2 tahun 10 bulan, hanya bisa berbaring lemas di tempat tidurnya. Seperti apa? Berikut catatan reporter Radar Mandalika.
TARNADI-LOMBOK TENGAH
PADA Senin tanggal 11 Januari 2016, merupakan hari istimewa bagi keluarga pasangan Sukardi dan Hidayati. Pada hari itu, anak bungsunya lahir ke dunia dengan sehat dan selamat. Dan anak itu, dia beri nama Azizah Putri Handayani. Merupakan nama yang mengandung makna baik bagi orang tuanya.
Azizah sapa anak ini, dia merupakan anak perempuan semata wayang di antara tiga saudaranya yang lain. Dalam tiga bulan itu, keluarga sederhana ini melewati hari-hari bahagia bersama. Namun siapa sangka, pada usianya yang ketiga bulan, Azizah menampakkan gejala mengidap penyakit aneh. Hingga saatnya pada suatu hari, adik dari Dedi Sudayat, Robi Suganda dan Martadinata Subagya ini memperlihatkan matanya seperti orang kesurupan, bola matanya mutar-mutar melihat ke atas.
Tak berpikir panjang, orang tuanya pun membawanya ke poli anak di RSUD Praya. Dari keterangan dokter, dia mengidap gejala penyakit Hidrosefalus, sehingga oleh dokter disarankan untuk dioperasi. Namun karena takut akan terjadi hal tak diinginkan, apalagi usianya baru beberapa bulan. Orang tuanya pun menolak untuk dioperasi. Akan tetapi, semakin hari kondisi Azizah semakin mencemaskan. Sebab, anggota tubuhnya dari bawah kepala memperlihatkkan keanehan yakni makin mengecil. Belum lagi mengalami pembengkakan pada kepala.
Pada kondisi awal itu, mata Azizah mengeluarkan cairan. Dengan kondisi tersebut, keluarga beranggapan karena Azizah sakit dan kurang istirahat. Namun setelah dibawa ke dokter, saat itu pula dia divonis mengidap penyakit Hidrosefalus. Sebuah penyakit yang disebabkan terjadinya penumpukan cairan di dalam otak yang mengakibatkan meningkatnya tekanan pada otak si anak. Pada kondisi ini, cairan nutrisi makanan mengalir menggenangi otak dan tulang belakang. Dengan kondisi tersebut, keluarga merasa terpukul dan sedihnya luar biasa. Karena dengan keterbatasan ekonomi, timbul musibah yang begitu berat mereka pikul. Tak lama kemudian, orang tua membawa Azizah transmigrasi ke salah satu desa terpencil di Sumbawa Besar, tanah kelahiran ibunya, Hidayati. Itu dilakuakan kedua orang tuanya karena di Lombok tak memiliki tanah warisan walau sejengkal saja.
Berbeda dengan di Sumbawa, lahan kakek dan neneknya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya. Termasuk untuk biaya sekolah kakaknya. Di samping itu, kondisi Azizah tidak ada penurunan walau orang tuanya kerap mengontrolnya ke dokter puskesmas terdekat. Selain itu, beberapa kali orang tuanya juga mencari pengobatan tradisional. Hanya saja, semua itu tak membuahkan hasil, penyakit Azizah tak kunjung sembuh. Bahkan semakin parah. Karena kerab demam dan pusing, sehingga membuatnya sering menangis, terutama di malam hari. Dengan kondisi tersebut dan usia Azizah mencapai satu tahun, keluarga pun mencoba memilih jalan operasi pada sang buah hati tercintanya di RSUD Sumbawa Besar (KSB).
Kendati kondisi kepala Azizah lentur seperti balon yang diisikan air. Namun setelah dioperasi dan berkat kegigihan orang tuanya melakukan terapi tradisional. Selain kepala bagian atasnya, kondisinya mengeras dan tidak lentur seperti sebelumnya.
“Katanya dokter di sana (Sumbawa, Red), penyakit ini masih karena terlambat dioperasi. Mestinya ketika ada gejala kita lakukan operasi,” tutur Ayah Azizah, Sukardi kepada Radar Mandalika di kediamannya, kemarin.
Tak berjalan lama setelah operasi, kedua orang tua Azizah kembali ke Lombok. Hari-harinya, rasa sakit dan pedih dirasakan Azizah. Tak kuasa menahan sakit, membuat Azizah selalu kekurangan tidur setiap malam. Namun dengan kasih sayang tiga kakaknya dan orang tuanya, dia pun masih dirawat di rumahnya. Kalaupun dioperasi, tak memiliki biaya. Karena tentu biaya operasinya cukup besar.
“Sekarang saja, di kepala Azizah ada selang menjulur ke bawah dan masuk lagi kesaluran kantong kemih untuk dikelurkan bersama air kencingnya. Ketika tengkorak cairan di kepalanya penuh, cairan itu mengalir,” sambung Kakak Sulungnya, Dedi Sudayat. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here