Beranda Praya Metro Perjuangan Adila Nisa Ardani Melawan Kanker Retina Mata (1)

Perjuangan Adila Nisa Ardani Melawan Kanker Retina Mata (1)

BERBAGI
TARNADI/RADAR MANDALIKA BERJUANG: Kondisi terkini Adila Nisa Ardani, balita yang diduga mengindap kanker retina mata.

Sempat Dinyatakan Sembuh, Kini Gumpalan Matanya Bak Kepalan Tinju

Sungguh malang nasib Adila Nisa Ardani. Bocah dua tahun asal Dusun Telok Desa Sengkerang, Kecamatan Praya Timur ini sejak usia enam bulan sudah didiagnosa penyakit kanker retina mata.

TARNADI, RADAR MANDALIKA
RAUT wajah Adila Nisa Ardani nampak begitu kesakitan saat melihat orang yang belum dikenalnya mengunjungi rumahnya. Nisa, panggilan gadis kecil itu, saat ini terpaksa harus selalu berada di pundak sang nenek. Ia menderita peyakit Melignant Neoplasm of Retina, yaitu kanker retina mata.
Penyakit itu membuat fungsi mata Aira tidak berjalan semestinya. Matanya pun sudah amat membesar, bahkan mencapai ukuran kepalan tangan orang dewasa. Selain itu, benjolan juga terdapat di beberapa bagian tubuh lainnya, terutama di bagian leher.
Gadis dua tahun ini mestinya menikmati indahnya dunia dari tatapan mata yang sempurna. Namun Tuhan berkehendak lain, ia harus menanggung beban derita yang begitu berat.
Penyakit tersebut bermula saat anak ketiga dari pasangan Abdurrahman dan Haerani ini sempat jatuh tersungkur di halaman rumahnya saat baru bisa merangkak. Tak lama kemudian, matanya yang sebelah kiri mengeluarkan nanah dan darah. Takut terjadi sesuatu pada anaknya, sang Ibu, Haerani langsung membawa Adila ke dokter spesialis mata di Mataram. dr Harir Rahmaniah, seorang dokter spesialis mata. Dari keterangan dokter saat itu, bocah tiga bersaudara ini mengeluarkan darah karena pembuluh darah mata sebelah kiri Adila pecah. Namun tidak berapa lama ditangani dokter, pendarahan dari kelopak matanya sempat hilang seketika. Namun tak disangka, mata kiri adik dari Hairurrahman dan Serli Oktafia ini nampak sebuah benjolan kecil di bagian kelopaknya. Meski demikian, ibunya tak memperlihatkan tanda-tanda tersebut. Benjolan itu pun semakin hari semakin membesar. Sang ibu pun membawanya lagi ke dokter mata lain di mataram, yakni dr Farida. Karena takut akan terjadi masalah di mata Nisa, sang ibu pun meminta agar anaknya dioperasi. Hanya saja, sang dokter menyarankan agar dilakukan pencegahan dulu, karena menurut dokter hal itu merupakan gejala sejak lahir sehingga sulit dilakukan operasi. Karena kondisi Nisa tidak ada perubahan untuk pulih. Selang beberapa minggu kemudian, pihak keluarga pun melakukan check up ke RSUD Provinsi berbekal biaya gratis melalui BPJS. Pihak rumah sakit pun meminta agar keluarga mengizinkan untuk dilakukan operasi, mengangkat kotoran atau penyakit yang ada di mata Nisa. Namun sayangnya, dengan alasan masih kecil, keluarga tak berani melihat Nisa untuk dioperasi. Alhasil keadaan mata bocah kelahiran 1 Maret 2016 itu pun semakin parah. Terus dibiarkan, akhirnya tiga bulan lalu gumpalan daging bersama bola mata Nisa menjulur keluar.
Setelah itu pun, sang ibu yang hanya berprofesi sebagai petani dan mengandalkan penghasilan dari sang suami di Negeri Jiran terus berupaya untuk mengobati anaknya. Namun belum saja ada perubahan.
“Tapi hebatnya, Nisa tak terlalu cerewet seperti anak-anak seusianya. Kadang-kadang malam baru sering nangis,” ujar Haerani, Ibu Adila Nisa Ardani kepada Radar Mandalika. (bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here