Beranda Headline Hujan Datang, Pengungsi Merana

Hujan Datang, Pengungsi Merana

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA MENANTI HUNTAP: Suasana pengungsian di Dusun Senggigi Desa Senggigi Kecamatan Batulayar, kemarin.

LOBAR —Datangnya musim penghujan, membuat korban gempa di Dusun Senggigi Desa Senggigi dilanda keresahan. Hujan deras membuat air masuk ke tenda pengungsian mereka.
“Sudah dua hari ini airnya masuk ke tenda,” ungkap Farhin, warga setempat yang ditemui di lokasi, kemarin.
Menurutnya, tidak hanya air yang turun dari perbukitan. Air juga membawa sampah, dan binatang seperti semut, “Karena dekat bukit, kalau hujan pasti banjir. Semut muncul, kasian yang punya anak kecil di sini,” ungkapnya.
Tenda yang terbuat dari terpal pun bocor. Warga terpaksa memindahkan sejumlah barang seperti kasur dan perabotan lainnya ke atas meja. Untuk mengatasi banjir, warga membuat parit di sekeliling tenda. Beberapa warga memilih pindah kembali ke halaman rumah dan membuat tenda dengan sisa puing bangunan.
“Sekarang hanya 40 KK (kepala keluarga) sisanya di sini,” sebutnya.
Untuk bantuan sembako dan air bersih, masih diperoleh dari sejumlah relawan. Ada juga bantuan hunian sementara (Huntara) yang akan dibangun. Hanya saja baru terpasang berupa tiang bambu. “Sudah seminggu terpasang, Cuma belum jadi,” katanya.
Menurut Kaur Kesra Desa Senggigi, Muhammad Fatul Aziz, masih ada atusan penggungsi yang tinggal di tenda pengungsian. Datanya musim hujan membuat warga resah. Selain banjir, warga khawatir munculnya berbagai penyakit.
Melihat cuaca telah berubah ke musim hujan, Pemkab Lobar terus mendorong percepatan pembangunan rumah bantuan. Namun, keterbatasan panel RISHA masih menjadi kendala. Satu aplikator hanya mampu membuat panel untuk satu unit rumah perhari. Kondisi itu tidak dibantah Litbang Kementerian PUPR, Kuswara. Kapasitas produksi panel sangat terbatas. Sedangkan baru ada 17 aplikator atau 17 titik workshop di NTB dengan kemampuan produksi paling banyak untuk 6 unit.
Jumlah aplikator itu harus melayani lebih dari 72 ribu rumah rusak berat seNTB. Ia pun pesimis target yang ditetapkan Wakil Presiden bisa terpenuhi. “Kita harus kerja sangat-sangat keras untuk bisa memenuhi target tersebut,” ungkapnya belum lama ini.
Diakuinya banyak kendala yang dihadapi sehingga produksi panel Risha sangat lamban. Seperti minim sumber daya manusia (SDM), bahan baku yang terbatas dan dengan alat produksi yang rusak. Serta faktor hujan yang mulai turun menjadi kendala. Pihaknya mendorong agar aplikator-aplikator lokal bisa membantu produksi panel Risha tersebut. “Tidak ada kualifikasi khusus. Yang penting mau berinvestasi untuk alat cetak, bahan baku, dan penyediaan SDM. Kita siap melatih untuk membuatnya,” jelasnya. (win/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here