Beranda Headline Tiga Saksi Beratkan Anggota Dewan Muhir

Tiga Saksi Beratkan Anggota Dewan Muhir

BERBAGI
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA KESAKSIAN: Seorang saksi kasus OTT, Gufron saat memberi kesaksian di hadapan majelis hakim, kemarin di Mataram.

MATARAM – Sidang lanjutan kasus dugaan operasi tangkap tangan (OTT), uang pelicin dana gempa sebesar 31 juta dari anggaran Rp 4,2 miliar di Disdik Kota Mataram kembali digelar. Sidang kali ini, menghadirkan terdakwa anggota DPRD Kota Mataram, Muhir di Pengadilan Tipikor Mataram, kemarin. Adapun agenda sidang, jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Mataram menghadirkan tiga orang saksi di lokasi OTT.

Dalam sidang ini, dipimpin Hakim ketua, Isnurul Syamsul Arif dan anggota Feridand M Leander dan Abadi. Saksi yang dihadirkan itu sebagai saksi fakta yaitu, Gufron, Mahesti Cahya Alim dan I Made Doni Gautama. Sementara JPU perkara ini, AA Gde Putra, Deddy Delyanto dan Agus Taufikurahman.

Dalam pengakuan saksi, Mahesti Cahya Alim yang merupakan staf bidang Tindak Pidana Korpusi Kejari Mataram menyampaikan, keterangan benar telah diperintahkan oleh Kajari untuk memantau pergerakan anggota dewan, Muhir tanggal 13 September. Ia mengawasi terdakwa di warung makan Delasira Sayang-sayang bersama staf Kejari lainnya. Sampai di Delasira tempat itu pada saat sepi karena direnovasi, untuk itu dia pun kembali ke kantor. Selain itu perintah lainnya kata dia tepatnya Jumat pagi menuju warung Encim, dimana lokasi OTT terjadi di Cakra Mataram sekitar pukul 09.30 Wita. Sebab, pimpinan mendapatkan informasi akan ada pertemuan anggota dewan, Muhir dengan Kadisdik, Sudenom dan Kontraktor Catur Totok.

Sekitar setengah jam di lokasi dia melihat Muhir masuk ke warung makan itu dengan mengajak dua anaknya, lalu masuk ke warung tersebut. Berselang beberapa saat datang dua orang yaitu, Sudenom dan Catur Totok menghampiri Muhir. Merekapun berbincang sambil tertawa.

“Saya mendengar cerita tentag seorag teman tapi saya nggak paham detail obrolannya. Di warung itu nggak ada orang lain selain pengunjung,” cerita Hesti.

Beberapa saat kemudian, lanjut ceritanya terdengar kata Kepala Disdik dengan mengatakan agar Catur memberikan amplop warna coklat ke Muhir, lalu diberikan. Saat sempat meneriam amplop itu, tiba-tiba pihak Kejari Mataram, I Made Doni Gautama datang dan langsung meminta agar mereka bertiga diam di tempat.

“Sudenom mengatakan kasih lah dia dan oleh terdakwa langsung menerimanya, saya melihat ketika uang itu di lempar dengan cara didorong ke Muhir dan posisi Catur duduk berhadapan dengan terdakwa,” katanya.

Saat suasana mulai kisruh, dimana terdakwa melempar lagi uang itu ke Catur saat diketahui Kejari petugas Doni juga menggeledah saku Catur, ternyata ada juag sesuatu yang ditemukannya.

“Baik terdakwa Muhir, Sudenom dan Catur sebelumnya saya tidak tau nama mereka. Saya tau saat dibawa ke kantor untuk disidik,” ungkap dia.

Saksi lainnya Gufron juga melihat langsung bahwa uang di dalam ampol coklat itu, sempat diterima oleh terdakwa di TKP. Gufron juga membenarkan bahwa saat di lokasi dia bersama Hesti yang diperintah untuk memantau TKP.

Sementara itu terdakwa, Muhir membantah pengakuan saksi itu, semua tidak benar Doni mengatakan berhenti di tempat. Yang ada saat itu, petugas Kejari langusng menangkap dirinya.

Muhir juga membantah mengenai uang yang diberikan sempat jatuh saat diterima dari Catur, yang ada kata dia uang itu langsung ditolaknya dan oleh Catur langsung dimasukkan kembali.
“Begitu petugas Kejari periksa saya tidak ada uang saya dan saya langsung dilepas saat itu,” beber Muhir.

Muhir juga membantah tidak pernah ada pembicaraan apalagi, menyebut nama walikota sesuai yang disampaikan Saksi.

Sementara itu, Penasihat Hukum (PH) Muhir, Burhanuddin menjelaskan Muhir tidak pernah meminta uang apalagi sampai memeras sesuai yang dituduhkan JPU. Saat di TKP kata dia, yang memberikan itu Sudenom dan Catur tanpa diminta terlebih dahulu. Selain itu, PH juga membantah bahwa Muhir menerima uang seperti yang disebutkan saksi-saksi. Yang disebut menerima itu ketika uang itu dimasukkan ke kantong atau ke tas. Dalam fakta persidangan itu, PH melihat banyak kejanggalan yang disampaikan saksi dari unsur Kejari tersebut.
“Kami juga sedang siapkan saksi-saksi termasuk saksi ahli dalam masalah ini,” kata Burhanuddin yang dikonfirmasi usai menjalani sidang. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here