Beranda Headline Panel Terbatas, Pembangunan RISHA Lelet

Panel Terbatas, Pembangunan RISHA Lelet

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA DIBANGUN: Inilah salah satu Risha yang sedang dibangun di Dusun Batu Kantar Desa Narmada, Kecamatan Narmada, kemarin.

LOBAR — Pembangunan Rumah Instan Sehat Sederhana (RISHA) di Dusun Batu Kantar, Desa Narmada belum juga rampung. Setelah sebulan lebih peletakan batu pertama, RISHA itu belum juga jadi dan ditempati warga. Dari empat kelompok masyarakat (Pokmas) di dusun itu, baru sembilan unit RISHA yang dalam proses pembangunan. Salah satunya sudah i pemasangan atap.
Lamanya proses pembuatan pondasi karena harus menunggu panel. Hal itu menjadi kendala Pokmas. Sehingga Pokmas tidak berani menargetkan kapan pastinya RISHA selesai 100 persen. “Nggak tahu, kita menunggu saja (panelnya),” ujar Ketua Pokmas, Awaludin yang ditemui, kemarin.
Selain itu, persediaan bahan bangunan dari pencairan dana bantuan tahap pertama sebesar Rp 25 juta juga mulai menipis. Pokmas harus menunggu pencairan tahap kedua sebesar Rp 15 juta. Hanya saja sesuai ketentuan, pencairan baru bisa dilakukan setelah pembangunan fisik mencapai pemasangan tembok dan atap. “Tapi sudah dikejar (pembangunannya) untuk tahap dua ini,” ungkapnya.
Sementara Plt Kades Narmada, H Ahmad Safri mengaku jika pembangunan RISHA masih berptoses. Di wilayah Desa Narmada terdapat 400 lebih rumah yang rusak. Baik kategori berat, sedang maupun ringan.
Dari jumlah itu, sekitar 137 KK sudah memperoleh bantuan dana stimulan ke rekeningnya. Terbagi menjadi empat Pokmas. Dana yang dicairkan untuk tahap pertama baru Rp 50 persen atau Rp 25 juta. “Sudah terealisasi, termasuk yang sudah berdiri (RISHA) sembilan unit. Yang sudah pondasi 32 unit, dan galian sekitar 50 unit,” terangnya.
Pihaknya sudah mengajukan 3 Pokmas yang berisi 40 KK. Namun kini masih dalam proses pengurusan persyaratan pencairan. Sisanya masih akan dilakukan validasi terkait tingkat kerusakannya. Terkait keterlambatan pembangunan itu, diakui akibat panel RISHA yang terbatas.
Produksi panel itu yang hanya bisa satu unit perproduksi. “Panelnya terbatas, jadi kita menunggu,” ucapnya.
Ditambahkan, di desa itu hampir sebagian besar Pokmas memilih RISHA. Namun ada juga sebagian yang memilih Rumah Konvensional (RIKO). Alasannya, pendampingan dari fasilitator untuk pembangunan RISHA lebih cepat. Sedangkan RIKO belum ada pendampingnya hingga kini. “Karena konvensional ini menunggu, belum ada fasilitatornya,” sambungnya.
Ia menghargai usaha pemerintah untuk terus berupaya mempercepat pembangunan RISHA. Kabarnya, aplikator panel Risha akan ditambah satu lagi. Namun masih mencari lahan untuk menjadi lokasi produksi yang tepat. “Harapan kami, lebih cepat lebih baik. Karena masyarakat yang rumahnya sudah roboh tidak ada tempat tinggal. Biar cepat jadi biar ada tempat tinggalnya,” harapnya. (win/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here