Beranda Lombok Timur Makna di Balik Peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober

Makna di Balik Peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA SUMPAH PEMUDA: Ketua DPP dan Sekretaris Pemuda NW Pancor, usai memberikan penjelasan dan harapan memperingati hari sumpah pemuda, kemarin.

Pemuda Berperan Penting, Hindari Perbuatan Memecah Belah Persaudaraan

Banyak cara untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Termasuk, banyak perspektif dalam memaknai Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober.
MUHAMMAD RIFA’I – LOTIM
TANGGAL 28 Oktober ditetapkan sebagai peringatan hari Sumpah Pemuda. Momen peringatan Sumpah Pemuda ditetapkan sebagai kegiatan nasional, karena pemuda memiliki peran besar dalam merebut kemerdekaan bangsa ini. Jutaan pemuda sudah tumpah darahnya dan mati syahid karena membela bangsa ini dari penguasaan para penjajah.
Seiring dengan perkembangan negara, organisasi masyarakat (ormas) kepemudaan juga berkembang pesat menuju kualitas yang baik. Pemuda sebagai bagian dari infrastruktur negara, dan menjadi lumbung kader-kader bangsa. Organisasi kepemudaan sebagai wadah perjuangan, bukanlah sekadar wacana. Namun, sangat berperan besar dalam berbangsa dan bernegara, sebagai sebuah sistem yang menjalankan fungsi kepemudaannya. Saling berhubungan, serta saling menguatkan dengan fungsi ormas-ormas lainnya, menuju tujuan besar bernegara.
Maka pantaslah ormas kepemudaan, termasuk Pemuda Nahdlatul Wathan, sebagai bagian dari pemuda pengendali zaman. Sudah saatnya pula isu-isu yang beredar saat ini, tersaring baik supaya menjadi energi positif membangun bangsa. Cita-cita negara ini, harus memimpin ide dalam praktek berkebangsaan dengan pola Qaulan Karima (perkataan yang mulia tidak membuat orang marah), Qaulan Syadida (argumentasi yang berdasarkan kebenaran berisi kejujuran dan lurus), Qaulam Ma’rufa (perkataan yang baik), dan Qaulan Baligho (dalil yang jelas maknanya, terang dan tepat).
Negara Indonesia, dengan susunan sistem bernegara saat ini adalah pilihan sistem yang paling baik dan juga telah menjadi konsensus ketatanegaraan Indonesia. Adapun sistem bernegara yang ditawarkan pihak-pihak tertentu masih bersifat prediktif belaka, yang sudah pasti tidak sesuai bilamana diterapkan di negara Indonesia.
Pembangunan bangsa di kalangan pemuda, dan seluruh anak bangsa, harus memiliki perspektif yang sama. Bahwa, demokrasi Pancasila adalah sistem negara Indonesia yang paling baik dan benar. Selain itu, semua lapisan masyarakat menjadikan momentum politik sebagai ajang peningkatan kesejahteraan bangsa. Termasuk, bagaimana semua lapisan mengedepankan sikap saling menghargai perbedaan, pilihan politik, sehingga silaturahmi tetap terjaga.
Disamping itu, bagaimana semua lapisan berperan aktif membangun bangsa ini, sesuai kapasitas masing-masing. “Kami sangat berharap semua lapisan, baik pemuda, masyarakat dan lainnya agar menghindari perbuatan-perbuatan yang berpotensi memecah belah persaudaraan di tengah masyarakat,” kata Muhamad Halqi, Ketua DPP Pemuda NW Pancor Lotim. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here