Beranda Mataram Keluhkan Minimnya Fasilitator dan Aplikator

Keluhkan Minimnya Fasilitator dan Aplikator

BERBAGI

MATARAM —Pembangunan rumah instan sehat sederhana (RISHA), maupun rumah konvensional (RIKO) bukan hanya terkendala pembentukan kelompok masyarakat (Pokmas). Terbatasnya jumlah fasilitator, dan hanya ada satu aplikator penyedia panel RISHA, turut memperlambat terbangunnya RISHA maupun RIKO.
Kondisi itu turut disesalkan Wakil Wali Kota Mataram, H Mohan Roliskana. Padahal menurutnya, Kota Mataram termasuk progresif dalam memfasilitasi terbangunnya RISHA maupun RIKO. “Kita merasa lebih maju juga mempersiapkan data kerusakan, beserta klasifikasinya. Termasuk kegiatan fisik berupa pembersihan rumah warga yang rusak, hingga tahapan pembentukan Pokmas,” jelasnya, kemarin.
Namun sayangnya, penyediaan panel-panel RISHA yang difasilitasi aplikator sangat terbatas. Hanya ada satu aplikator, yakn PT Waskita Karya yang menyediakan panel RISHA. Bukan hanya untuk kebutuhan Kota Mataram. Tetapi juga wilayah lain di Pulau Lombok. imbasnya, pembangunan RISHA dirasakan agak lelet. “Sampai sekarang belum rampung. Bagaimana bisa cepat tuntaskan sesuai jumlah 655 unit RISHA, dan RIKO,” tegas Mohan.
Apalagi sebentar lagi musim hujan tiba. Lahan tempat berdirinya RIKO dan RISHA sudah siap. Tinggal menunggu panel datang. “Khawatir masuk musim hujan. Masyarakat terdampak gempa bisa alami masalah baru,” ungkapnya.
Kepada Rekompak (rehabilitasi dan rekonstruksi masyarakat dan pemukiman berbasis komunitas), Mohan meminta mempercepat penyediaan panel RSIHA agar bisa dibuat lebih masif. “Tolong siapapun yang diberikan kewenangan penyediaan komponen-komponen RISHA supaya dipercepat,” imbuhnya.
Mohan memperkirakan ada masalah di aplikator sehingga panel tidak diproduksi masif dan massal. “Produksi terbatas, dan harus disebar ke beberapa kabupaten/kota di NTB,” sebutnya.
Selain aplikator, minimnya fasilitator jadi masalah. Fasilitator ini bertugas mendampingi Pokmas dalam pembangunan RISHA maupun RIKO, termasuk dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB). “Idealnya fasilitator butuh lebih dari 40 orang, sedangkan yang ada sekarang hanya 14 orang,” katanya.
Karena penunjukan fasilitator di luar kewenangan Pemkot Mataram, maka Kota Mataram kata Mohan, hanya bisa menunggu penambahan fasilitator. Sembari bisa memberdayakan tenaga teknis yang ada di Dinas PUPR sebagai fasilitator. “Tenaga teknis dari Dinas PUPR bisa diperbantukan. Hanya perlu samakan pemahaman tentang sistem Rekompak. Itu bisa jadi jalan keluar, agar tidak terlalu bergantung pada Rekompak. Tinggal ajarkan ke tenaga teknis kita, sambil menunggu penambahan fasilitator,” sebutnya.
Sementara untuk aplikator, pemkot hanya bisa menunggu saja. Meski pemkot telah siap memberikan dukungan kepada masyarakat untuk membangun pondasi awal. Bantuan itu berupa semen, maupun pasir agar RISHA cepat terbangun. “Ini sudah bangun pondasi, tapi panelnya lama. Harapan berjalan paralel,” ungkapnya seraya menyebut, sudah menyampaikan usulan. “Kalau kenapa tidak ditambah, mereka yang tahu masalahnya,” pungkas Mohan. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here