Beranda Headline Senggigi Mati Suri

Senggigi Mati Suri

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA DAMPAK GEMPA: Sejumlah wisatawan melintas di depan bangunan yang roboh diguncang gempa bumi, Agustus lalu.

Pemkab Lobar Diminta Bergerak

MATARAM – Kondisi pariwisata di Lombok Barat kawasan Senggigi, makin hari makin memprihatinkan. Ini dampak pasca gempa bumi yang menggoyang bumi Pulau Lombok belum lama ini. Pelaku pariwisata khususnya hotel dan restoran kualahan, jangankan untuk membayar pajak ke daerah, membayar gaji karyawan saja berat bahkan diakuinya sudah tidak bisa lagi.
Atas kondisi ini, pelaku pariwisata mendesak pemerintah Lombok Barat segera hadir menunjukkan diri. Pemkab Lobar diminta segera mengambil sikap. Pemkab Lobar didorong agar memperbanyak event- even baik nasional maupun internasional di Senggigi khususnya. Pelaku pariwisata NTB yang juga pemilik salah satu hotel di Senggigi, Misbach Mulyadi melihat pemerintah Lobar tidak berkreasi dalam memunculkan PAD bagi Lobar sendiri.
Seharusnya, Pemkab Lobar harus bisa mengajak pemilik hotel berkolaborasi saat saat ini, jangan terkesan diam saja. Sebagai bukti, kata Misbach bulan ini seharusnya musim ramai wisman tetapi faktanya sepi, belum lagi bulan Januari memang bulannya sepi pengunjung destinasi tentu akan semakin memperburuk pendapatan hotel dan restoran.
“Kondisi di Senggigi berbeda dengen di Mataram. Harusnya Pemerintah Lobar berkreasi di kondisi paceklik ini,” sentil Misbach.

Situasi Senggigi hari ini, mati suri sehingga butuh segera dihidupkan lagi oleh pemerintah. Mungkin bisa saja pemerintah provinsi memberikan stimulan dengan diagendakan rapat atau pertemuan, namun yang paling dibutuhkan perannya yaitu Pemkab Lobar yang memang itu wilayah yang harus dihidupkan. Selama ini, PAD dari hotel besar di Senggigi tidak sedikit sehingga menurutnya harus didorong agar PAD dari kawasan itu tidak dropping.

“Sekarang ini jangankan bayar PAD, gaji karyawan aja kita tidak bisa. Kita mati suri,” ungkap politisi Golkar NTB itu.

Sementara itu, Ketua PHRI NTB, Lalu Hadi Faisal juga membenarkan dimana Senggigi hari ini belum normal. Rata-rata okupansi hotel di NTB ini, berada di kisaran 35 persen itu berarti masih butuh sentuhan pemerintah untuk membangkitkan kondisi wisata NTB, apalagi Senggigi yang memang wilayah terdampak.

“Kita memang berada di situasi kembang kempis. Artinya sedang mengalami kondisi tidak sempurna,” kata Hadi.

Hadi mengaku pemerintah masih terus melakukan berbagai langkah untuk recoveri Lombok-Sumbawa. Bahkan Menteri Pariwisata sendiri pada 18 Oktober sendiri mengadakan bisnis ghateringi menjual (prmosi) wisata Lombok di berbagai negara di Asean dan Eropa. Tidak hanya itu presiden, kata dia juga meminta kementrian agar banyak kegiatan nasional dan bisa terlaksan di Lombok.

“Kalau usaha pemerintah terus ada. Tapi saya setuju memang kondisi kita masih butuh sentuhan pemerintah,” jelasnya. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here