Beranda Headline Hanura Dorong Masyarakat Melapor

Hanura Dorong Masyarakat Melapor

BERBAGI
DOK/RADAR MANDALIKA Syamsu Rijal

Temuan Dugaan Manipulasi Dana BOS Madrasah

MATARAM – Fraksi Hanura DPRD NTB memaklumi sikap Polda NTB, yang tidak bisa melakukan penyelidikan dugaan manipulasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar 20 persen jika tanpa dilaporkan. Hanura melihat hal itu telah sesuai dengan mekanisme di internal mereka. Namun dalam hal ini Hanura meminta masyarakat umum agar bisa memasukkan laporan ke Polda jika temuan dari investogasi Ombudsman RI perwakilan NTB itu benar adanya.
Ketua DPD Hanura NTB, Syamsu Rijal menyampaikan dorongan Hanura kepada tidak saja bagi masyarakat umum. Lebih khusus lagi bagi kepala sekolah yang merasa dipaksa untuk ikut membeli buku umum K-13 melalui satu pintu yang diyakininya tidak diatur sama sekali dalam aturan sesungguhnya.
Pria yang duduk di Komisi I DPRD NTB, bidang Pemerintah, Hukum dan HAM itu mengaku belum mengetahui kebenaran sesungguhnya seperti apa. Tetapi jika memang itu benar, maka perbuatan manipulasi dana BOS yang terstruktur dan sistematis seperti temuan Ombudsman itu harus disikapi. Sebab perbuatan itu sangat memalukan dan mencederai nama madrasah yang dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mengutamakan pendidikan agama di Indoensia.
“Jika ini benar ini sangat memalukan. Kami dorong masyarakat melaporkan temuan Ombudsman ini,” tegas Syamsu Rijal di Mataram, kemarin.
Ia mengaku kaget dengan pemberitaan media terkait hasil investigasi itu. Namun jangan sampai ini menjadi teka teki yang tidak ada ujungnya. Untuk membenarkan hal ini, perlu masyarakat memasukkan pengaduan sehingga ditindaklanjuti oleh Aparat Penegak Hukum (APH).
Hanura akan siap mendampingi dan membela masyarat terutama yang merasa dirugikan. Apalagi jika kepala sekolah mengaku ada paksaan tersendiri membeli buka K-13 melalui Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag kabupaten/kota sampai tingkat provinsi. Meski telah dibantah oleh Kanwil Kemenag NTB, kata dia, perlu dibuka sejelas-jelasnya. Jangan sampai lagi-lagi ini menjadi teka-teki semata. “Hanura siap pasang badan. Kami dorong kepala sekolah yang merasa dirugikan itu memasukkan laporannya,” tegasnya.
Seperti diketahui Ombudsman RI (ORI) perwakilan NTB menemukan dugaan manipulasi uang Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada ribuan madrasah. Baik jenjang tingkat Ibtidayah sampai Aliyah di NTB. Bahkan ORI menemukan dugaan terjadi korupsi dan kolusi yang dilakukan secara sistemis, masif dan terkondisikan. Hasil investigasi yang dilakukan ORI sejak September sampai Oktober ini disimpulkan telah terjadi dugaan perbuatan maladministrasi penyimpangan prosedur. Penyalahgunaan wewenang dan dugaan perbuatan melawan hukum pada proses pencairan dana BOS pada 2.256 madrasah se NTB pada pencairan tahap II tahun ini.
Proses tersebut diindikasikan telah terjadi pengkondisian secara sistemik. Bahkan proses pembelian buku umum K13 oleh madrasah secara berjenjang kuat dugaan telah terjadi konspirasi dari pejabat di Kanwil Kemenag NTB sampai dengan pejabat kabupaten/kota. “Ini hasil penelusuran kami sejak September kemarin,” kata Asisten ORI Bidang Pelaporan, Sahabudin, Senin (22/10) kemarin.
Sahabudin menjelaskan, semua elemen institusi saling terkait dengan penggunaan jabatan/kekuasan, perintah atau imbauan non formal kepada seluruh Kasi Pendidikan Madrasah kepada seluruh kepala madrasah untuk melakukan pembelian buku Kurikulum 2013 (K13) sebesar 20 persen dari dana BOS yang diterima. Tanpa melihat kebutuhan buku dan penggunaan kurikulum masing masing.
“Perintah pembelian buku hanya diatur satu perusahaan penyalur buku, kalau beli di luar perusahaan lain tidak diterima,” kata dia menyimpulkan hasil investigasinya.
Tindakan ini secara besar-besar dikondisikan diseluruh madrasah. Jenjang MI, MTS dan juga MA dalam waktu yang sudah ditentukan. Sehingga seluruh madrasah di semua jenjang se NTB dalam waktu bersamaan membeli buku yang sama dalam jumlah yang sama di satu perusahaan yang sama. (cr-jho/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here