Beranda Headline Cerita Bayi Kembar Tiga Lahir di Tenda Pengungsi Gempa Sulteng

Cerita Bayi Kembar Tiga Lahir di Tenda Pengungsi Gempa Sulteng

BERBAGI
Tenda yang jadi hunian sementara pengungsi gempa Sulteng. (Mugni Supardi/Radar Sulteng/Jawa Pos Group)

Persalinan Dibantu Bidan di Posko

Nifan masih terlihat lemas. Wajahnya sayu. Tapi, senyum perempuan 37 tahun itu terus mengembang. Saat ini, kondisinya berangsur membaik.
MUGNI SUPARDI-SULTENG
DUA hari sebelumnya (11/10) dia melahirkan bayi kembar tiga. Di tengah kebersahajaan sebuah tenda dari terpal. Tempat dia dan keluarga mengungsi setelah jadi korban gempa.
Ukuran tenda itu sekitar 4 x 8 meter. Delapan belas orang tinggal di sana. Jadi, tidak heran di dalamnya berjubel banyak perlengkapan sehari-hari. Mulai pakaian sampai peralatan mandi.
“Masih saudara semua yang tinggal di sini,” terangnya.
Nifan tengah duduk di atas sebuah kasur saat Jawa Pos bertandang ke tempat pengungsian di Dusun Dompu, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, tersebut. Di sebelahnya terdapat tiga bayi mungil. Mereka tertidur pulas. “Ini yang disebut keajaiban,” ungkapnya.
Ya, dia tidak pernah menyangka bakal mendapat berkah di tengah terpaan bencana alam. Lebih-lebih bayi yang dikandungnya lebih dari satu. “Bidan yang membantu persalinan saja tidak tahu kalau di dalam perut saya ada tiga bayi,” katanya.
Ingatannya lantas melayang ke tiga pekan yang lalu. Saat Nifan hendak mencuci pakaian, bumi mendadak berguncang keras.
Dia pun membatalkan niatnya. Herman, sang suami, meneriakinya untuk lekas keluar rumah. Mereka mengajak serta keempat anak: Erni, 20; Muhid, 18; Ika, 16; dan Fiki, 14. “Rumah kami sangat dekat dengan pesisir,” jelasnya.
Gempa pada 28 September lalu itu memang berepisentrum di Sirenja. “Belajar dari kejadian di Aceh dulu. Warga pasti lari ke gunung kalau ada gempa besar,” lanjutnya.
Keluarganya dan puluhan orang berlari kencang. Nifan tidak lagi kepikiran rasa sakit meski kandungannya sudah memasuki usia sembilan bulan. “Lari saja pokoknya. Bagaimana menyelamatkan diri,” katanya.
Nifan sudah tidak memperhatikan arah belakang. Langkahnya terus bergerak mengimbangi suami dan anak-anak. Belakangan dia sadar sudah berlari sejauh 4 kilometer untuk menyelamatkan diri.
Malam itu dia dan warga menginap di bukit. Di tengah hutan yang gelap gulita. Mereka tidur beralas dedaunan. Baru keesokan harinya sang suami mencari terpal ke bawah untuk dibuat tenda.
Untuk makan, ya seadanya. Herman mencari kelapa dan cokelat untuk pengganjal perut keluarganya. Minumnya tetap air sungai. Dua hari bermalam di atas bukit, Nifan dan yang lain kemudian diarahkan perangkat desa untuk berkumpul ke sebuah lapangan. Jaraknya sekitar 1 kilometer. “Biar bisa dijangkau bantuan katanya,” tuturnya.
Hari-hari penuh kesengsaraan pun dijalani. Meski hamil tua, Nifan harus mau berbagi tempat dengan pengungsi lain. Desak-desakan di dalam tenda. “Untung ada dokter yang datang setiap hari untuk memeriksa kandungan,” jelasnya.
Rabu malam (10/10) perempuan kelahiran 1981 itu merasa mulas. Pengalaman empat kali menjalani persalinan menyadarkan dia bahwa bayinya belum akan lahir.
Esok harinya (11/10) sakit itu bertambah. Nifan kemudian meminta suaminya memanggil Vivi Rahmadani, bidan di posko pengungsian. Dia memang sengaja disiagakan di area pengungsian untuk membantu pengungsi.
Maklum, lokasi pengungsian cukup jauh dari letak puskesdes. Jaraknya hampir 5 kilometer. Jalur yang dilalui juga tidak nyaman. Bergeronjal. Belum ada aspal.
Nifan pun melahirkan bayi laki-laki dengan berat 1,6 kilogram Kamis (11/10) sekitar pukul 14.00. Di atas alas berupa terpal. Di dalam tenda yang selama ini ditinggali. Bayinya normal, kesehatannya stabil.
Keajaiban tidak terhenti. Seusai melahirkan, perutnya tidak terlihat mengecil. Dia juga masih merasakan sakit.
Vivi tentu saja heran. Dia kemudian meminta perempuan di depannya kembali mengejan. Eh, sesosok bayi laki-laki dengan berat 1,8 kilogram ternyata keluar satu jam kemudian. “Lagi-lagi masih terasa sakit setelah melahirkan,” kata Nifan.
Bidan terus membantunya. Nifan lantas kembali melahirkan bayi ketiga satu jam berselang. Beratnya sama dengan bayi kedua. “Dokter dari Australia sehari sebelum melahirkan juga sempat periksa. Dia tidak bilang anak saya akan kembar tiga,” sambungnya.
Herman pun hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kandungan kelima istrinya. Dia memberikan gelang dari rafia warna-warni untuk membedakan bayi kembarnya. Warna hitam untuk si sulung. Hijau bagi bayi kedua. Nah, yang paling kecil diberi kuning.
Dia belum punya gambaran nasib mereka ke depan. Nama untuk bayi-bayi itu pun belum terlintas. Herman yang sehari-hari mencari penghasilan dari bertani ingin fokus memberikan makanan bergizi bagi istrinya. Maklum, semua bayi itu minum ASI. “Rumah sudah rusak disapu tsunami, tidak tahu tinggal di mana,” kata pria 42 tahun tersebut.
Nifan bukan satu-satunya perempuan yang melahirkan di posko pengungsian itu. Dini hari kemarin pasutri Aladawiya-Ihsan juga dikaruniai anak kedua. Wiya melahirkan bayi laki-laki sekitar pukul 00.30. Dia juga bersalin di dalam tenda dengan bantuan bidan.
Warga setempat itu juga sempat lari kencang ketika gempa terjadi. Wiya keluar rumah menuju lapangan kecil dekat tempat tinggal. Dia bahkan harus menggendong Alfatih, anak pertamanya yang masih berusia 1,5 tahun. “Suami tidak di rumah,” ujarnya.
Ihsan selama ini hanya pulang di akhir pekan. Dia menjadi tenaga honorer di SMPN 2 Labuan, Kecamatan Sirenja. “Lebih dari 20 kilometer dari rumah,” kata Wiya.
Wiya, seperti warga lain, lantas diminta berkumpul di posko pengungsian desa. Baru malamnya sang suami muncul. Ihsan kontan saja lega kehamilan istrinya tidak mengalami gangguan. “Saya juga guru honorer. Di SMPN 4 Sirenja. Dari rumah 18 kilometer,” paparnya.
Wiya bersyukur lantaran kondisi bayi yang dia lahirkan normal. Beratnya 2,6 kilogram. Bayi ganteng itu juga tidak rewel walaupun harus tinggal di tenda yang terasa pengap. Wiya yakin bayinya akan tumbuh menjadi anak yang kuat.
“Karena sejak lahir sudah ditempa bencana. Dia membuat saya kuat,” katanya.
(*/c10/ttg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here