Beranda Headline Wabah Malaria Serang Warga Pengungsian

Wabah Malaria Serang Warga Pengungsian

BERBAGI
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA Nurhandini Eka Dewi.

MATARAM – Wabah malaria kini menyerang pengungsi korban gempa bumi Lombok. Data dirilis Dinas Kesehatan NTB, kasus yang terinfeksi malaria mencapai 400 orang yang mayoritas di 10 desa di Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat. Kasus tersebut kemudian menjadi status Kejadian Luar Biasa (KLB). Meski kasus mencapai ratusan, namun jika ada penambahan dipastikan tidak seprogresif pada awal awal artinya penambahan kasus diyakini tidak banyak.

Kepala Dinas Kesehatan NTB, Nurhandini Eka Dewi menjelaskan wabah malaria bisa dengan cepat tertular karena banyak yang tidur di tenda. Dimana sebelumnya mereka tidur di rumah sehingg sulit bisa digigit nyamuk. Dengan kondisi ini, kata dia Dikes NTB melihat ada sisi positifnya dimana mereka terus bergerak melakukan cek darah bagi semua pengungsi sehingg yang positif dengan cepat bisa langsung diobati segera. Lobar kata dia, memang daerah yang belum bisa bebas dari Malaria sehingga Dikes juga melakukan penanganan khusus terutama membunuh mata rantai. Kejadian malaria di Lobar berbeda dengan di KLU meski sama sama sebagai pengusngi namun hanya ditemukan dua kasus dan itupun bukan asli warga KLU.
“Lobar salah satu kabupaten yang belum tereliminasi malaria. Angka pengidap malaria mencapi 400,” kata Eka di Mataram kemarin.
Selain intesn melakukan pengecekan darah, Dikes juga telah membagi sekitar 3000 kelambu dengan dua jenis hal itu untuk mencegah masuknya nyamuk bagi para pengusngi. Selain itu untuk memutus mata rantai kata dia, perindukan malaria diberi obat flaksida atau pembunuhan jentik malaria dengan dibungkus dan ditaruh ditempat tempat yang tergenang sehingga kalau ada nyamuk tidak akan bisa menggigit. Dengan penanganan khusus yang dilakukan Dikes, dipasatikan status Kejadian Luar Biasa (KLB) akan bisa selesai dalam waktu dekat.
Kenpa jadi banyak karena orang yang sehat juga diperiksa darahnya dengan keliling mendatangi daerah plosok.
Selain di Lobar, yang dikhawatirkan Dikes juga di Sumbawa namun status di Sumbawa kata dia sudah bisa ditagani dengan baik sehingga kasus malaria tidak begitu banyak. Dikes juga meminta agar masyarat tidak tidur didekat kandang ternak sebab jika ada air yang tercenmar akan memicu penyakit diaera dan bagi ventilasi terbuka juga akan bisa menyebukan inveksi saluran pernapasan. Selain Malaria kata dia penyakit yang juga bisa muncul ialah tipes namun banyak dari mereka tidak mau diobati langsung. Disinggung dengan korban gempa yang tidak memiliki uang untuk berobat, Eka menjelaskna di semua daerah sudah disediakan anggaran dana sosial yang bisa dipakai termasuk di Dikes provinsi juga telah menyediakan dana talangan. Ini berbeda dengan dengan di KLU yang memang keseluruhan wagra KLU telah tercover oleh BPJS.
Namun demikian ia berharap agar segera melaporkan bagi warga yang butuh berobat namun terkendala keuangan. Permintah menjamin akan memfasilitasi warga apalagi korban gempa.
“Silakan laporkan ke kami siapa yang tidak bisa berobat kasih tau nama mereka, dimana biar kami segera obati. Jadi jangan khawatir soal biaya,” tutup Eka. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here