Beranda Lombok Timur Tiga Layanan Ini Dijamin BPJS Kesehatan

Tiga Layanan Ini Dijamin BPJS Kesehatan

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA PENJELASAN: Kepala BPJS Cabang Selong dr Gerry Adhikusuma saat memberikan penjelasan tentang Perdijampelkes Nomor 2 Tahun 2018, kemarin.

LOTIM – Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan (Perdirjampelkes) Nomor 2 Tahun 2018 memberikan kabar baik, bagi para peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Perdiljamkes itu, memberikan penjaminan pelayanan penyakit katarak, rehabilitasi medik dan penjaminan persalinan dengan bayi baru lahir.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Selong, dr Gerry Adhikusma, dalam keterangan persnya di Selong, kemarin menjelaskan, peserta yang mendapat penjaminan pelayanan katarak, tentu harus sesuai indikasi medis. Sementara dokter yang melakukan operasi katarak dengan teknik phacoemultifikasi (teknik laser), harus dilengkapi dengan sertifikat yang dikeluarkan Kolegium oftalmologi Indonesia (KOI), bersama Perdami. “Jika dokter yang melakukan operasi katarak dengan teknis laser sampai 21 Desember nanti tidak memiliki sertifikasi, maka tidak bisa dijamin. Karena kami mengedepankan mutu pelayanan,” jelas Gerry.
Sementara penjaminan persalinan satu paket dengan bayi baru lahir, adalah bayi baru lahir yang mendapat pelayanan neonatal esensial, dan tidak membutuhkan perawatan dengan sumber daya khusus. Baik bayi itu dilahirkan melalui tindakan bedah cesar, maupun persalinan Pervaginam dengan penyulit atau tanpa penyulit.
Bayi baru lahir yang mendapatkan pelayanan neonatal esensial dan menggunakan perawatan dengan sumber daya khusus berdasarkan standar pelayaan sesuai indikasi medisnya, dapat dibayar terpisah dari paket persalinan. Salah satunya seperti, pelayanan afiksia bayi baru lahir yang membutuhkan sumberdaya khusus sesuai standar pelayanan yang berlaku, stabilisasi bayi sebelum dirujuk membutuhkan sumberdaya khusus, dan bayi yang dilahirkan dengan kelainan yang membutuhkan sumber daya khusus dalam rangka penanganan segera dari kelainan tersebut. “Kaitan dengan penjaminan pelayanan rehabilitasi medik terdapat beberapa ketentuan. Sesuai indikasi medis dari hasil penilaian dokter, melalui assesmen dokter SPKFR, dan lainnya. Paling banyak, peserta melakukan rehabilitasi medic dua kali dalam seminggu atau 8 kali dalam sebulan,” terangnya.
Kaitan dengan sistem rujukan berjenjang, untuk menjamin mutu pelayanan. Rujukan berjenjang bisa menggunakan rumah sakit terdekat. Sistem rujukan berjenjang, sudah menggunakan sistem digitalisasi, guna memberikan kemudahan dan kepastian dalam memperoleh layanan di rumah sakit. Sesuai dengan kompetensi, jarak dan kapasitas rumah sakit tujuan rujukan, berdasarkan kebutuhan medis pasien.
“Kelebihan rujukan berbasis online, peserta tidak terlalu lama antre, karena data sudah terkoneksi secaara online. Meski surat rujukan hilang, tetap bisa dilayani,” pungkasnya.  (fa’i/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here