Beranda Mataram Peternak Lokal Sulit Tembus Pasar Waralaba Nasional

Peternak Lokal Sulit Tembus Pasar Waralaba Nasional

BERBAGI

MATARAM —Keinginan peternak lokal menembus pasar restoran waralaba nasional, sepertinya tak semudah membalik telapak tangan. Sebab, pensuplai kebutuhan ayam ke waralaba nasional semisal Kentucky Fried Chicken (KFC) maupun Mcdonald’s (MCD) dilelang secara nasional. “KFC dan MCD tidak bisa dimasuki pasar lokal karena lelangnya secara nasional,” kata Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, H Mutawalli belum lama ini.
Namun, bukan berarti peternak local tak bisa menyuplai kebutuhan ayam di restoran-restoran siap saji semacam itu. Asal mengikuti lelang secara nasional, dan bisa memenuhi standar yang telah ditetapkan perusahaan-perusahaan tersebut. “Pengusaha kita harus ikut lelang di nasional,‎ karena keputusan ada di nasional. Dan kita belum bisa bersaing,” ungkapnya.
Dari sisi suplai dan harga, ayam yang dipasok ke restoran siap saji tersebut telah distok sejak awal untuk kebutuhan setahun. “Makanya tidak terpengaruh walaupun harga daging ayam naik, karena mereka (KFC, McD dan sejenisnya) sudah punya stok daging dari awal untuk kebutuhan setahun. Sehingga harganya stabil,” jelasnya.
Jika restoran siap saji tak bisa ditembus, menurut Mutawallli, peternak local bisa mencari pangsa pasar lain. Yakni di hotel, restoran, dan kafe yang ada di daerah ini. Sementara untuk pasokan ke ritel modern, nyaris sama polanya dengan ke restoran siap saji. “Ritel juga ada standarisasi pusat. Khusus beku, agak sulit juga,” katanya.
Untuk itu, Mutawalli menyarankan pengusaha dan peternak lokal membangun jaringan dengan pengusaha di pusat. “Istilahnya nebeng pasar di luar,” cetusnya.
Untuk bisa menjadi pemasok daging bagi kebutuhan restoran siap saji skala nasional, salah satu persyaratannya harus memenuhi standar higienitas tinggi. Syarat ini belum bisa terpenuhi di rumah potong unggas (RPU) milik Pemkot Mataram. “RPU kita belum mampu penuhi itu. Secara kualitas ayam juga sangat diperhatikan,” jelasnya.
Sebelumnya, Fathurrahman dari PT Baling-Baling Bambu mengatakan, tawaran untuk menggunakan RPU milik Pemkot Mataram tak bisa diterimanya. Alasannya, lokasi RPU yang jauh akan mempersulit peternak saat membawa ayamnya untuk dipotong. Selain itu, RPU juga belum memenuhi standarisasi sesuai keinginan pasar dan pengusaha. “Kalau tempat pemotongannya terlalu jauh, agak susah untuk mengkondisikan ayamnya. Karena ayam ini tidak bisa sembarangan tempatnya. Apalagi dekat pemukiman penduduk,” jelasnya. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here