Beranda Headline HPS Moment Merebut Kedaulatan Pangan Indonesia

HPS Moment Merebut Kedaulatan Pangan Indonesia

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA H Bambang Kristiono

MATARAM – Hari Pangan Sedunia (HPS) atau World Food Day ke-38 yang jatuh pada tanggal 16 Oktober 2018, diperingati serentak di sejumlah negara termasuk Indonesia. Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra, H Bambang Kristiono (HBK) menekankan agar moment HPS 2018 jangan hanya dijadikan kegiatan seremonial semata.

Lebih dari itu, HPS harus menjadi moment bagi bangsa Indonesia yang agraris ini untuk memulai kembali merebut kedaulatan pangan nasionalnya. “Harus ada upaya nyata agar kedaulatan pangan bisa terwujud dan menjadi kebanggaan kita di Indonesia yang notabene merupakan negara agraris ini. HPS harus jadi moment penting untuk kita rebut kembali kedaulatan pangan kita,” tegas HBK di Mataram, kemarin.

Caleg DPR RI nomor urut 1 Partai Gerindra untuk Dapil NTB 2/Pulau Lombok ini mengatakan, sebagai bangsa agraris dengan lokasi potensial berada di bawah garis khatulistiwa, seyogyanya Indonesia bisa menjadi bangsa yang mandiri di sektor pangan dan pertanian secara luas.

Hanya saja, ada miss management atau kesalahan pengelolaan. Akhirnya membuat sektor ini justru tak mampu mensejahterakan para petani yang menjadi ujung tombak pendorongnya.
“Ini kan ironis. Negara kita adalah negara agraris, tapi justru kantong-kantong pra-sejahtera malah tersebar banyak di tempat-tempat keberadaan kaum petani, dan juga nelayan kita,” katanya.

HBK menilai, kondisi ini terjadi karena ada yang salah dalam tata kelola di sektor ini. Serta masih kentalnya mental korupsi di pemimpin-pemimpin bangsa ini. “Dua hal mendasar yang menjadi penyebab lambatnya laju kesejahteraan petani dan nelayan kita menurut saya adalah, salah kelola dan yang satunya lagi adalah masih kentalnya mental korupsi,” tegas dia.

Itu sebabnya, papar HBK, hingga kini Indonesia masih saja melakukan impor sejumlah komoditi pertanian dari luar negeri, yang imbasnya justru merugikan para petani di negeri sendiri. Selain itu, petani dan nelayan di Indonesia masih saja dibiarkan berjalan sendirian, tanpa perlindungan. “Padahal seharusnya kita jangan sampai meninggalkan para petani dan para nelayan kita, karena mereka-mereka inilah ujung tombak ketahanan pangan kita,” tegasnya.

“Petani harus kita perhatikan, didampingi dan dilindungi untuk bersama-sama merebut kembali kedaulatan pangan kita. Jangan sampai ada istilah tikus mati di lumbung padi,” tambahnya.

HBK menegaskan, untuk memulai semua itu pemerintah harus berani membatasi impor komoditi pertanian. Aparat penegak hukum juga harus serius memberantas kartel-kartel besar yang turut bermain dalam pola import ini. Moment Hari Pangan Sedunia (HPS) harus benar-benar dimaknai dengan upaya nyata bangsa ini dalam merebut kembali kedaulatan pangannya, meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan, dan menciptakan pertanian yang maju dan mandiri. “Sehingga para petani bisa menjadi tuan di negerinya sendiri,” tegasnya. (cr-jho/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here