Beranda Lombok Barat Cerita Jatuh Bangun Pengusaha Gorden di Lombok

Cerita Jatuh Bangun Pengusaha Gorden di Lombok

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA PASANG: Owner D’Gorden Lombok Zulfahmi saat memasang gorden di salah satu rumah warga Kota Mataram

Merintis Sejak Kuliah, Raup Omset Jutaan Rupiah Perbulan

Zulfahmi adalah seorang pengusaha yang merintis bisnis gorden. Jatih bangun dialaminya selama menjalankan usaha dengan label D’ Gorden Lombok.
WINDY DHARMA-LOBAR
MUDA, tekun dan pandai membaca peluang. Hal itu menjadi kunci sukses Zulfahmi, dalam menjalankan bisnis gordennya hingga saat ini. Pria berusia 32 tahun ini telah merintis usahanya. Owner D’ Gorden Lombok hingga kini bisa meraup omset jutaan rupiah perbulannya. Capaian luar bisa itu bukan diperolehnya instan. Bertahun-tahun ia merintis usaha itu seorang diri. Sebelum akhirnya kini memiliki pegawai sendiri.
Saat ditemui di kediaman sekaligus tokonya di Dusun Jerneng Desa Terong Tawah Kecamatan Labuapi, ayah satu orang anak ini menceritakan kisahnya merintis usahanya. Berawal sejak masih duduk di bangku kuliah. Fahmi-panggilan Zulfahmi, merasa kebingungan membiayai wisudanya. Ia pun memilih mengikuti jejak sang kakak berjualan gorden keliling.
Dari rumah ke rumah, ia melihat sang kakak memasang gorden. Berbagai jenis kain maupun bahan yang kuat untuk gorden telah dipahaminya secara otodidak. Di tahun 2010, ia memberanikan diri mulai merintis sendiri usaha gorden. Berbekal pengalaman dan jiwa bisnis turun temurun dari keluarganya, perlahan usahanya berkembang.
Hasil usahanya itu bisa membiayai kuliah hingga pernikahannya di tahun 2013. Dukungan sang istri membuatnya semakin bersemangat. Ketika anak pertamanya lahir, inisial istri dan anak digunakan sebagai nama tokonnya. Yakni D’Gorden Lombok. “Alhamdulillah, dulu sendiri, sekarang sudah ada tukang jahitnya, pres, dan pasang. Itu masih keluarga semua,” kata Fahmi, kemarin.
Suka duka dialaminya selama merintis usaha itu. Selama 4 tahun sempat vakum. Mencoba peruntungan baru dengan gelar sarjana yang dimilikinya. Namun jiwa bisnis yang sudah melekat membuatnya terpanggil kembali.
Para pelanggannya tersebar di sejumlah daerah. Tidak hanya di Lombok Barat (Lobar), namun Kota Mataram hingga KLU menjadi pelanggannya. Desain kain yang menawan dan kuat, membuat para pelanggannya percaya menyerahkan setiap jendela di rumahnya untuk didekor. Sederet nama istri pejabat seperti istri Wali Kota Mataram, hingga politisi wanita terpincut kualitas dan desain gorden milik Fahmi. “Kebanyakan yang masang untuk rumah pribadinya, ada juga yang pesan untuk dekor acara pernikahan,” katanya.
Harga gorden yang dijual bervariasi. Mulai kisaran Rp 50 ribu sampai jutaan rupiah. Tergantung dari selera, jenis kain dan luas jendela yang dipasang. Omset sekitar Rp 5-6 juta mampu diraup perbulannya. Keuntungan itu bisa berlipat ganda jelang hari raya Idul Fitri dan tahun baru. Ia pun mampu membuka sedikit lapangan pekerjaan bagi keluarganya.
Usaha ini dinilainya sungguh menguntungkan. Bagi anak muda yang ingin usaha, cobalah berjualan gorden. Menurutnya usaha ini tidak akan sepi pelanggan. “Pemuda yang sudah menekuni usaha ini, tetaplah bertahan. Karena usaha gorden tidak akan pernah mati selama rumah masih dibangun, orang pasti butuh gorden,” sarannya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here