Beranda Lombok Timur BTNGR Survey Wisata Alternatif Rinjani

BTNGR Survey Wisata Alternatif Rinjani

BERBAGI

LOTIM – Masyarakat Kecamatan Sembalun, banyak menggantungkan mata pencahariannya dari wisata pendakian Gunung Rinjani. Untuk memberikan alternatif wisata lain di Rinjani, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) melakukan survey jalur wisata alternatif. Survey itu, melibatkan sejumlah pihak terkait.
“Per tanggal 15 Oktober lalu, kami sudah mulai melaksanakan survey alternatif lain wisata Rinjani,” kata H Sudiyono, Kepala Balai TNGR NTB, pada awak media, kemarin.
Ia menjelaskan, survey kondisi jalur pendakian Rinjani sudah dilakukan sejak tanggal 3 sampai 5 Oktober lalu. Tidak saja survey jalur pendakian melalui Sembalun. Tetapi juga melalui jalur Budaya Torean, dan Senaru Lombok Utara. Survey kondisi jalur pendakian ini melibatkan tim dari TNGR, TNI, Polri, Basarnas, Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, Dispar Lotim, Dispar KLU, BPPD Lotim, BPPD KLU, dan pihak terkait lainnya.
“Hasil survey jalur pendakian oleh tim ini, dibahas bersama BWS dan ahli geologi dari Dins ESDM Provinsi NTB,” jelasnya.
Dibeberkan Sudiyono, kondisi jalur pendakian di sepanjang jalur Sembalun, terdapat 14 titik dalam kondisi longsor dan 1 titik tanah retak. Shelter di jalur pendakian Sembalun dalam kondisi baik 12 unit, 1 unit rusak ringan, 1 unit rusak sedang dan 1 unit rusak berat. Mata air pos II Sembalun dalam kondisi baik, satu unit pos jaga di pos II Sembalun mengalami rusak ringan.
Bukan itu saja, sebuah jembatan beton dengan rantai besi dalam kondisi rusak berat, namun masih dapat dilewati. “Tim kita mampu melaksanakan survey sampai dengan KM 7,8. Jalur pendakian Sembalun, terputus akibat longsor di bukit penyesalan sekitar 120 meter sebelum pelawangan Sembalun,” tegasnya.
Disimpulkan dari hasil survey itu, selain mencari jalur alternatif wisata lain di Rinjani. Jalur pendakian Sembalun, Senaru dan Toeran belum dapat dibuka untuk pendakian, karena kondisi jalur pendakian belum aman. Longsoran di Gunung Rinjani, patut dijadikan bahan pertimbangan bagi pihak terkait untuk dilakukan antisipasi bencana. Utamanya bagi masyarakat di sekitar aliran sungai yang berhulu Gunung Rinjani, ketika musim hujan datang.
“Survey rencana rehabilitasi jalur pendakian dan fasilitas pendukung, dimungkinkan dapat kita lakukan setelah musim hujan selesai, sekitar Mei 2019 mendatang,” pungkasnya seraya mengatakan, sementara pendakian sampai Danau Segara Anak dimungkinkan bisa dilakukan tahun 2020 mendatang. (fa’i/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here