Beranda Headline Pelaku Wisata Mulai Cemas

Pelaku Wisata Mulai Cemas

BERBAGI
IST/Radar Mandalika WISATA: Salah satu gajah di Lombok Elephant Park sedang membawa wisatawan beberapa waktu lalu.

Ketut Suardika: Sekarang kan Kondisinya Berbeda

KLU —Kabupaten Lombok Utara memiliki segudang potensi wisata yang bisa dinikmati keindahannya oleh para wisatawan. Hal ini pun menjadi magnet bagi para investor untuk mengembangkan usaha wisata di Dayan Gunung tersebut. Namun tak disangka justru saat ini para pelaku usaha wisata mengaku merasa cemas dengan situasi perkembangan wisata Lombok Utara saat ini.
“Saya sesungguhnya kepincut dari dulu untuk membangun usaha wisata di Lombok Utara, tapi sekarang kondisinya kan berbeda,” ungkap pemilik usaha wisata Lombok Elephant Park, I Ketut Suardika, kemarin.
Kecemasan Ketut nampaknya cukup beralasan. Salah satu yang menjadi keluhan yakni tidak seimbangnya ekspose wisata antara tiga gili dan di kawasan daratan.
Tidak hanya itu Ketut juga mengeluhkan tentang informasi tour wisata yang kurang menggeliat di Lombok Utara, dan juga pelayanan kepada wisatawan sendiri masih belum menjamin kenyamanan. Menurutnya saat ini sistem tata kelola SDM masih belum menjadi konsentrasi pemerintah. Padahal jika SDM para guide dilakukan pembinaan dan pengawasan yang intensif maka bisa membuat para wisatawan lebih menerima informasi yang akurat dan sesuai dengan kondisinya.
Ia berharap, pemerintah bekerjasama dengan pihak ketiga membuat konter paket tour yang agak megah untuk meyakinkan wisatawan bisa menerima tawaran yang diberikan. Di samping itu guide pun harus lebih jujur dan beretika.
“Wisatawan saat berkunjung ke Lombok Elephant Park sendiri juga ada yang ditakut-takuti oleh guidenya. Guide kadang mengatakan, jika terlalu lama di sini nanti bisa ditinggal oleh angkutan boat,” sesalnya.
Dirinya juga mengakui untuk memberikan keleluasan para wisatawan untuk mengelilingi wisata tiga gili dan daratan pernah menawarkan kapal gratis kepada wisatawan untuk mengangkut ke daratan jika ingin menikmati wisata selain tiga gili. Namun nampaknya tidak bisa bertahan lama karena pelaku usaha transportasi di kawasan gili merasa keberatan dengan itu.
“Kalau hanya seperti ini konsepnya, kita bisa tertinggal dengan wisata lain,” bebernya.  (cr-dhe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here