Beranda Headline Melihat Keunikan Rumah Terbalik di Desa Bug-Bug

Melihat Keunikan Rumah Terbalik di Desa Bug-Bug

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA UNIK: Beginilah bangunan rumah terbalik desain Sukarno, warga Desa Bug-Bug Kecamatan Lingsar, kemarin.

Bentuk Protes Kepada Pemerintah, Dijadikan Lokasi Wisata Gempa
Sebagian orang mungkin lebih memilih membangun rumah biasa yang nyaman. Berbeda dengan keputusan warga korban gempa di Desa Bug-Bug, yang membuat rumah terbalik.
WINDY DHARMA-LOBAR
UNIK dan kreatif. Kata ini yang pas disampaikan kepada Sukarno. Warga Desa Bug-Bug, Kecamatan Lingsar ini membangun rumah yang tak biasa. Kebanyakan orang mungkin akan membangun rumah biasa sebagai tempat tinggalnya. Namun berbeda dengan Sukarno. Ia justru membuat rumah dengan model terbalik.
Berdiri di atas runtuhan gempa, rumah itu bentuknya memang terbalik. Bagian atap yang biasanya diletakkan di atas, justru dibuat penyamping. Seakan bangunan itu terlihat tertidur. Bangunan yang masih dalam pengerjaan itu memiliki tembok dan pintu yang lengkap. Bahkan bangunan rumah itu terbuat dari bahan yang terlihat kuat.
Sukarno mengaku mendapat ide ini selama berada dua bulan di pengungsian. Ia ingin membuat rumah yang unik, lain dari pada yang lain. Rumah ini ingin dijadikanya bukti sejarah dahsyatnya gempa yang melanda Lombok beberapa bulan lalu. “Selama di pengungisan, saya buat oret-oret (desain). Saya ukur semua rangka dan sebagainya,” ceritanya saat ditemui di kediamannya, kemarin.
Desain bangunan rumah ini awalnya membuat kaget para tukangnya. Tukang justru memintanya membangun rumah yang biasa, seperti pada umumnya. Namun karena tekadnya yang sudah bulat, Sukarno tetap bersikeras untuk membuatnya. Ia pun berencana menjadikan rumahnya itu sebagai salah satu objek wisata gempa.
Apalagi ia sendiri merupakan salah seorang pelaku wisata. Dengan objek wisata gempa ini diharapkan bisa menarik lagi tamu ke Lombok. “Saya pelaku wisata Rinjani. Karena wisata Rinjani tutup sementara waktu, saya jadi jualan mikir juga. Jadi temanya harus saya rubah juga. Temanya dalam bentuk wisata gempa,” jelasnya.
Rumah ini nisa menjadi lokasi wisata, sambil menjual souvenir wisata gempa. “Bisa jadi kampung wisata gempa,” sebutnya.
Selain ingin menjadikan objek wisata, rumah terbalik itu juga bentuk protes dirinya kepada pemerintah daerah. Meski rumahnya juga terdampak dan rusak berat akibat gempa, namun tak masuk data penerima bantuan dari pusat. “Kecewa iya, karena setelah saya lihat data verifikasi, nama saya tidak masuk. Padahal rumah saya rusak,” kritiknya. Kini bangunan rumah terbalik itu sudah rampung 60 persen. Diperkirakan dua minggu lagi rumah itu sudah bisa ditempati.
Sementara Pemerintah Desa (Pemdes) setempat membenarkan jika rumah terbalik itu bentuk kekecewaan warganya. Pemdes Bug-Bug awalnya mengusulkan sekitar 518 bangunan rumah terdampak gempa untuk memperoleh bantuan. Namun dari hasil verifikasi pemerintah daerah dan BNPB, hanya mengakomodir 233 bangunan.
“Memang dari Pemkab Lobar mengimbau pemerintah kecamatan dan desa untuk mengusulkan kembali warga yang belum terverifikasi,” ungkap Plt Kades Bug-bug, Marzuki.
Pihaknya sudah mengusulkan kembali nama-nama warganya yang belum masuk data verifikasi. Termasuk Sukarno, si pemilik rumah terbalik. “Kita usulkan lagi 348 bangunan ke Dinas Perumahan Dan Permukiman (Disperkim) Lobar, untuk dilakukan verifikasi atau pendataan. Mudah mudahan pendataannya segera, dan warga kami yang membangun rumah terbalik juga masuk verifikasi,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here