Beranda Lombok Timur Terkait Isi Mulok, Pusakanda Mengaku Khilaf

Terkait Isi Mulok, Pusakanda Mengaku Khilaf

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA Zaenuddin Husen

LOTIM – Pusakanda, penerbit buku pendamping Muatan Lokal (Mulok) Pantun Sasak dan Jampi-Jampi Batur Sasak, memberikan klarifikasi atas kedua buku tersebut. Pihak pusakanda mengaku khilaf, karena setelah buku diterbitkan sebanyak 300 eksemplar, tidak dicek kembali. Tetapi langsung beredar ke semua sekolah yang memesan buku tersebut.

Ketua Pusakanda NTB, Moh Zaenuddin Husen, dalam keterangan persnya di Selong, (13/10) lalu mengatakan, dari sisi bahasa, halaman, dan layout kedua buku itu belum diedit. Saat melakukan pengiriman ke pihak percetakan, terdapat dua file yang dikirimnya ke percetakan Surabaya. Satu file sudah diedit, dan satu file mentah. Rupanya, file yang naik cetak adalah file mentah.
“Kesalahan di percetakan, karena mencetak file mentah. Kekhilafan kami, tidak mengecek teliti setelah terbit, langsung kami drop sesuai pesanan,” kata Zainuddin.
Waktu sosialisasi buku sebanyak 35 judul itu, disepakati sebelum buku masuk perpustakaan, agar buku dibaca oleh kepala sekolah (Kasek). Kasek pun memerintahkan guru-guru membaca buku-buku tersebut. Sehingga, ditemukan kata-kata kurang mendidik pada dua judul buku, yakni Pantun Sasak, dan Jampi-Jampi Batur Sasak. Meski pun, pada judul besarnya di buku Pantun Sasak, Pantun Bebonye’an (pantun jenaka), untuk main-main.
“Begitu mendapat telepon dari pihak sekolah, per tanggal 25 September itu, kami langsung mengambil sikap menerbitkan surat penarikan buku,” tandasnya.
Dari 300 eksemplar yang dicetak terdiri dari 35 judul, 33 judul dinyatakan bagus. Hanya dua judul buku sebanyak 180 eksemplar, yang ditarik dari 45 sekolah pemesan di Kecamatan Labuhan Haji, Sakra Barat dan Sikur. Penarikan sudah 95 persen, dititip pada Unit Dikbud. Sisa dua judul itu masih di rumahnya, belum beredar. “Untuk Jampi-Jampi Batur Sasak, kami ganti pakai kamus tiga bahasa (Sasak, Indonesia dan Inggris). Sedangkan buku Pantun Sasak, kami ganti pakai Kearifan Budaya Lokal Suku Sasak,” terangnya.
Ia mengungkapkan, nilai buku pendamping muatan lokal yang dipesan 46 sekolah tersebut bervariasi. Ada yang memesan Rp 2 juta, dan ada pula Rp 1,5 juta. Yang memesan Rp 1,5 juta, mendapatkan 80 eksemplar terdiri dari 35 judul. “Atas nama penulis, penerbit dan seluruh tim editor, dan percetakan mohon maaf sebesar-besarnya pada lapisan masyarakat. Kami sangat berterimakasih, ada kepedulian masyarakat terkait mutu pendidikan daerah kita ini,” ujarnya.
Agar kasus serupa tidak terulang, ia mengklaim sudah mengajukan surat permohonan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), melakukan verifikasi ulang terhadap buku-buku yang ada. Dimana letak yang harus diperbaiki, sebelum dilakukan pencetakan dan disebar kesemua sekolah.
Selain itu, mengajukan surat pada Dikbud agar membentuk tim melakukan kajian. Tim yang dimintanya, berkompeten dan paham tentang kebudayaan, seperti dari Dosen Unram, Dikbud Provinsi, dan dari Majelis Adat Sasak (MAS).
“Untuk diketahui dari sisi adat. MAS sudah melakukan sidang adat terhadap kami. Kami sudah dikenakan sanksi sosial secara adat, berupa menyantuni anak yatim piatu,” pungkasnya seraya kembali meminta maaf sebesar-sebesarnya. (fa’i/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here