Beranda Headline Butuh Pelibatan Warga Korban Gempa

Butuh Pelibatan Warga Korban Gempa

BERBAGI
DIKI WAHYUDI/RADAR MANDALIKA HANCUR: Petugas telkom saat memperbaiki aliran kapel yang putus pasca gempa di Lombok Utara, Agustus lalu.

MATARAM – Kepala Banda Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstuksi Aceh – Nias 2005-2009, Kuntoro Mangukusbroto menyampaikan, pemulihan pasca gempa Lombok akan sangat mudah dilakukan jika warga diajak berpartisipasi aktif alias dilibatkan secara langsung. Seperti, membangun rumah mereka.
Kuntoro yakin, dengan terlibat langsung masyarat secara langsung akan memilki rasa tanggungjawab tersendiri terlbih rumah menjadi salah satu kebutuhan tempat tinggal mereka. Pria yang menjadi kepala Satgas penanggulangan Tsunami Aceh saat itu mengatakan, pelibatan masyarakat juga perlu didampingi dengan fasilitator, sebab kemampuan masyarakat tidak cukup jika tidak dibimbing. Langkah ini menurutnya, sangat membantu apalagi hal itu dilakukannya saat melakukan pemulihan pasca tsunami Aceh.
“Andaikata pendekatan dilakukan partisipatif masyarakat pemulihan bisa cepat sekali,” yakin Kuntoro yang ditemui diacara Rapim bersam OPD lingkup provinsi, kemarin.
Kuntoro juga melihat, kebutuhan rumah masyarakat sebetulnya bisa dibangun dengan model tradisi Lombok. Misalnya, dari anyaman bambu atau bahan lokal lainnya. Hasil kunjungan beberap hari yang lalu di Gumantar, Kayangan, KLU banyak rumah tradisional berdiri sehingga untuk bisa cepat membangun rumah korban menurutnya salah satu solusinya dengan didirikannya rumah tradisional mereka. Mereka juga bisa membangun sendiri jika masih sifatnya model tradisonal. Rumah khas Lombok, kata dia menggunakan bahan lokal dan bisa dikerjakan sendiri mulai dari memotong sampai proses pembangunanya.
“Tinggal diajarin bagaiamana perawatan bambu atau proses lainnya oleh fasilitator,” pesannya.
Dia juga berpandangan sebetulnya pembangunan hunian sementara (Huntara) itu sangat mudah dan juga biaya yang dibutuhkan sedikit. Huntara itu tidak perlu dibangun model rumah yang agak bagus tetapi setidaknya korban gempa bisa melangusngkan hidup sampai menunggu rumah tetap dibangun pemerintah. Huntara juga bisa memanfaatkan bangunan yang ada misalnya memanfaartkan fasilitas gedung sekolah, balai, masjid atau bentuk tenda biasa asal mereka bisa nyaman dan saat musim hujan mereka juga tidak kedinginan.
Dari segi biaya juga kata dia satu Huntara itu hanya membutuhkan 3 juta dan bisa dibangun dalam satu hari. Hal itu berbeda dengan pembangunan Hunian Tetap (Huntap) yang estimasi waktu baru bisa selesai minimal enam bulan. Ia berpandangan model Huntara yang sederhana sebetulnya akan sangat bisa diselesaikan pemerintah ketika terkendala dengan anggaran bisa memanfaatkan bantuan dana yang masuk dari sumbangan pihak lain. Jika model tersebut bisa dilaksanakan diyakininya kebutuhan Huntara berdasarkan data mencapai 60 ribu akan bisa terselesaikan dengan cepat.
“Kan sudah banyak bantuan dalam bentuk uang,” ujarnya.
Menurutnya hal yang mendesak harus dilakukan pemerintah selaian membangun rumah juga bagaiamana ekonomi masyarakat bisa dibangkitkan. Membangkitkan ekonomi kata dia bisa dilakukan melalui sektor pariwisata hal ini tentu akan melibatkan pengusaha wisata yang sanggung membangun wisata kembali.
“Ini pola modern dalam membangkitkan ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu untuk pola tradisional pemerintah perlu dengan segera membangkitkan sektor kecil seperti UMKM. Langkah ini bisa dilakukan asal pemerintah juga tidak menyulitkan perizinan. Untuk membantu usaha masyarakat kata dia pemerintah diharuskan menyederhanakan izin.
“Saya kira yang bisa dibantu oleh pemerintah menyederhakan perizinan,” cetusnya.
Disianggung dengan kemungikan NTB bisa bangkit dalam waktu yang cepat, Kuntoro mengaku hal itu akan bisa terwujud disupport dengan baik. Pengalaman mengunjungi korban gempa kemarin diakuinya mereka rata rata sabar meneriam keadaan tinggal pemerintah harus terus memberi motivasi dan support.
“Tinggal disupport dengan baik saja,”pungkasnya. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here