Beranda Headline WNA yang Diusir Bukan Relawan Resmi

WNA yang Diusir Bukan Relawan Resmi

BERBAGI
Ilustrasi: BNPB menegaskan WNA yang diusir dari Palu bukanlah relawan. Mereka datang tanpa mengantongi surat resmi. (Boy Slamet/jawa Pos)

PALU – Menjelang akhir masa tanggap darurat tahap satu berakhir, penanggulangan bencana di Palu diwarnai dengan pengusiran relawan asing. Mereka umumnya berasal dari Tiongkok, Nepal, Meksiko, dan Australia.
Menyoal pengusiran itu, Kepala Pusdatinmas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memberikan penjelasan. Semula para relawan yang berjumlah delapan orang itu tiba di Makassar pada Minggu (7/10).
Akan tetapi surat undangan para WNA itu disinyalir palsu. Alhasil BNPB melarang WN Tiongkok itu melanjutkan perjalanan. Ternyata larangan itu dilanggar. Saat di Makassar, relawan asal Tiongkok itu mengaku mendapat undangan dari Bupati Sigi. Kehadiran warga negara asing (WNA) itu di Makassar dicatat oleh BNPB sebagai
“Sudah kita lihat kondisi suratnya. Kita khawatir dan meragukan keaslian surat itu. Nah, kita sinyalir suratnya palsu. Kemudian petugas di Makassar sudah memperingatkan untuk tidak ke Palu. Ternyata tiga relawan asing itu tetap ke Palu menggunakan jalur darat,” ujar Sutopo dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Kamis (11/10).
Atas sikap dari WNA tersebut, pihak BNPB pun berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Bupati Sigi. Koordinasi itu untuk mengkonfirmasi undangan untuk para relawan dari Tiongkok tersebut. Alhasil dari pihak Pemkab Sigi ditegaskan surat yang dibawa WNA itu palsu. WNA itu pun diminta untuk meninggalkan Palu.
Tak berselang lama, datang lagi 14 WNA. Mereka berasal dari Nepal yang jumlahnya 5 orang, Meksiko (8), dan satu orang dari Australia. Ke-14 WNA itu pun ditolak saat berada di Palu.
Alasan penolakan itu tidak memiliki mitra lokal yang berbentuk organisasi di Palu. Selain itu mereka tidak memiliki barang bantuan yang ditetapkan pemerintah Indonesia. Adapun bantuan yang ditetapkan pemerintah yakni transportasi udara, genset, tenda, dan water treatment. “Lebih dari itu mereka tidak pernah mengajukan surat tertulis di Kemenlu atau ke Kedubes masing-masing,” terangnya.
Kemudian 14 WNA tersebut difasilitasi untuk kembali ke Balikpapan dan diangkut dengan pesawat hercules Malaysia. Di Balikpapan mereka diarahkan untuk menghubungi tim Kemenlu di posko Balikpapan. Pengarahan itu supaya mereka mengajukan permohonan tertulis untuk masuk ke Kota Palu.
Atas kasus ini, Sutopo mengingatkan para relawan asing yang ingin membantu korban bencana di Sulteng. Relawan itu harus memiliki perizinan dan membawa bantuan sebagaimana yang dibutuhkan pemerintah Indonesia.
Lebih dari itu, para relawan agar tidak menggunakan visa turis untuk masuk Sulteng. Pasalnya mereka ke Palu untuk membantu. Bukan berwisata.
“Ya kita terima kasih atas keinginan membantu masyarakat di Sulteng yang terkena bencana, tapi dalam bantuan ada aturan mainnya yang harus dipatuhi. Aturan ini bukan hanya di Indonesia, tapi juga berlaku di negara-negara lain,” pungkasnya.
(yes/JPC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here