Beranda Headline Penanganan Pascagempa Tebang Pilih

Penanganan Pascagempa Tebang Pilih

BERBAGI
Ahmad Rohadi/Radar Mandalika Sarifudin

Wabup: Kedatangan Presiden Tak Ada Pengaruh

KLU —Wakil Bupati Lombok Utara, Syarifudin menilai adanya perbedaan kebijakan pemerintah pusat dalam proses penanganan pascagempa di Lombok Utara dengan Palu, Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah. Meski sama-sama tidak ditetapkan sebagai bencana nasional, namun bantuan yang masuk ke Sulawesi Tengah banyak dari bantuan luar negeri. Sementara di Lombok Utara, bantuan luar negeri tidak diakses langsung pemerintah pusat.
“Saya heran kok bisa begitu. Apa bedanya bencana di Lombok dan Palu? Sama-sama kena gempa, tapi malah bantuan luar negri masuk di sana saja,” ungkap Sarifudin saat ditemui di kediamannya, kemarin.
Ia menjelaskan, untuk penanganan bencana kata dia, harusnya pemerintah pusat membuka diri sejak bencana gempa Lombok. Sebab yang terpenting menurut Sarif, proses pemulihan bisa cepat tertangani dan kondisi bisa segera normal. Namun sayang pemerintah pusat justru saat ini baru mulai membuka peluang bantuan dari luar negeri ketika bencana terjadi di Sulawesi Tengah.
“Karena itu saya katakan, kenapa penangananya beda?” sesalnya.
Saat ini Sarif menilai, bantuan dari luar negeri begitu mudah masuk ke Palu, tidak seperti Lombok. Baik itu bantuan dari relawan atau NGO dari berbagi negara bisa diterima langsung di sana.
“Pak Presiden kan sudah berkali-kali ke Lombok, tapi toh tidak ada pengaruhnya. Malah sampai saat ini bantuan stimulan tak kunjung cair,” ketusnya.
Karena itu, ia pun mempersilakan segala bantuan dari luar negeri bisa masuk ke Lombok Utara. Bahkan dirinya bakal membuat surat terbuka untuk dilayangkan ke Presiden.
“Apalagi saat ini banyak relawan sudah mulai meninggalkan Lombok Utara, sementara kondisi kami masih belum pulih. Makanya kita harus lakukan sesuatu,” tegasnya.
Tidak hanya itu, Sarif juga mengkritisi logistik yang mulai menipis. Bahkan dirinya pernah mendatangi satu tempat, di situ dirinya sempat mendapat informasi bahwa selama menjalani kehidupan pascagempa, masyarakat hanya pernah menerima 5 Kg beras untuk satu posko. Selain itu dua buah sikat gigi, beberapa mie instan dan handuk. (cr-dhe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here