Beranda Headline Kehilangan, Ketua PWNU NTB Tutup Usia

Kehilangan, Ketua PWNU NTB Tutup Usia

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA TGH Ahmad Taqiuddin Mansur

PRAYA – Masyarakat di NTB merasa kehilangan. Sosok guru yang juga menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB, TGH Ahmad Taqiuddin Mansur kini telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Sang guru tutup usia saat perjalanan ke RSUD Praya, pagi kemarin pukul 07.00 Wita.
Guru yang juga pengasuh Ponpes NU Al-Mashuriah Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat ini, awal kabar meninggal dunianya tersebar di media sosial. Pihak bahkan jamaahnya pun dibuat terkejut. Almarhum pun dimakamkan di pemakaman keluarga di desa setempat.
Hadir dalam proses pemakaman, sejumlah tokoh agama lintas daerah, Sekjen PBNU Helmy Faisal Zaini, Gubernur NTB Zulkiflimansyah, dan Danrem 162/Wira Bhakti Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdhani.

Gubernur NTB Zulkiflimansyah di hadapan jamaah merasa bersedih dan kehilangan sosok panutan masyarakat NTB. Bahkan tokoh nasional sekalipun. Untuk itu, Zul berharap apa yang diajarkan oleh almarhum bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat khususnya dalam berinteraksi antar sesama kendati berbeda organisasi, jabatan dan lainnya.

“Seorang Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB, beliau sangat sederhana dan kharismatik. Terimakasih atas pengabdiannya, semoga kita bisa meneladani beliau,” pesan Gubernur.

Demikian juga disampaikan oleh TGH Maarif Makmun Dirase, Ketua Rais Syuriyah PCNU Loteng. Dimana, dua hari yang lalu dirinya sempat dihubungi via ponsel. Hanya saja, dirinya tidak sempat menerima telpon. Sehingga hal tersebut yang menjadi pikirannya sampai saat ini. Kendati demikian, yang terpenting apa yang menjadi cita-cita pria kelahiran 17 Agustus 1953 itu bisa dilanjutkan oleh anak cucunya. Dengan harapan, perjuangan untuk mendakwahkan agama Allah bisa terus berjalan dan Ponpes yang diasuhnya bisa lebih besar lagi. Dia berharap apa yang menjadi contoh yang diperlihatkan olehnya bisa ditiru sebagai bekal dikehidupan berikutnya.
“Maaf pak Gubernur, ibu bapak sekalian. Saya tidak bisa banyak bercerita, mari kita ikhlaskan kepergian beliau kendati sosoknya masih kita perlukan untuk mendakwahkan agama Allah,” katanya.

Sementara itu, Sekjen PBNU Pusat, Helmi Faesal Zaini yang didaulat untuk menyampaikan sambutan keluarga mengaku, sejak pertama kali ia mengenal almarhum sampai sekarang orang yang sederhana dan tidak pernah mau menampakkan kesedihannya di hadapan kerabatnya. Hal-hal inilah yang tidak akan pernah dilupakan oleh dirinya dan pengurus PBNU pusat lainnya. Tidak hanya itu sebutnya, almarhum merupakan sosok yang visioner dan giat membangun. Itu terbukti dengan keseriusannya merintis dan mendirikan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB.
“Ketokohan beliau tidak perlu kita ragukan,” katanya.
Sementara, dari musibah itu ternyata sosok sang guru juga telah meniatkan diri berikhtiar melalui jalur politik. Di Pileg tahun 2019, almarhum telah mendaftarkan diri jadi Caleg DPR RI, dan telah masuk daftar calon tetap (DCT). Dari musibah ini, sesuai aturan PKPU tentu tidak bisa diganti, posisi almarhum tetap kosong sampai surat suara nantinya.
“Kalau meninggal dunia dicoret dan tidak bisa diganti,” terang KPU NTB Devisi Teknis, Suhardi Soud, kemarin.

Suhardi juga menjelaskan, almarhum setelah di cek di DCT KPU pusat masuk sebagai calon legislatif partai PKB dengan nomor urut 2 Dapil NTB 2 Pulau Lombok. Dengan telah meninggal kata dia, maka otomatis namanya akan dihilangkan dari surat suara. Sementara nomor urut daftar calon legislatif dibawahnya tidak bisa dinaikkan atau diganti.

“Nomor dua tidak bisa diisi tetap akan kosong,” kata dia. (cr-jho/tar/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here