Beranda Lombok Timur Ketika Dua Buku Pendamping Mulok Memunculkan Polemik

Ketika Dua Buku Pendamping Mulok Memunculkan Polemik

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA BACA: Zulfa Rosidani saat membaca isi buku kumpulan pantun sasak dan jampi-jampi batur sasak yang dinilainya melecehkan perempuan, kemarin.

Isi Dinilai Melecehkan Perempuan, Minta Bupati Bertindak Tegas

Dua buku pendamping Mulok, menuai polemik. Kendati buku-buku tersebut sudah diperintahkan untuk ditarik dari peredarannya.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM
KABUPATEN Lombok Timur (Lotim), beberapa hari terakhir dihebohkan dengan beredarnya buku pendamping muatan local (Mulok) yang dinilai tidak pantas untuk dibaca anak-anak Sekolah Dasar (SD) sederajat. Dua buku pendamping Mulok itu berjudul, Kumpulan Pantun Sasak dan Jampi-Jampi Batur Sasak, terbitan Pusakanda.
Dua buku pendamping Mulok ini mengejutkan para guru, dan pihak terkait lainnya, setelah mengetahui isinya yang dianggap porno. Buku-buku itu, sudah beredar luas dihampir semua sekolah SD sederajat. Kepala Unit (Kanit) Dikbud Kecamatan Labuhan Haji, mengetahui itu dari operator SD. Ia pun kaget mendapat informasi itu, dan langsung melakukan pengecekan. Dilihat dari isi buku sangat tidak layak untuk menjadi konsumsi siswa. Apalagi, buku itu menjadi koleksi perpustakaan. Pihak perusahaan berjanji menarik semua buku tersebut, dana akan menggantinya dengan kamus dan buku kearifan lokal.
Bukan saja para Kanit Dikbud, operator dan para guru yang kaget. Sejumlah perempuan yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) pun kaget. Terlebih setelah membaca beberapa bait pantun dan jampi-jampi tersebut.
Para siswi perempuan yang sempat membaca isi buku di media sosial (Medsos) mengaku keberatan. Kesannya menjatuhkan harkat dan martabat perempuan. “Perlu dilaporkan ini, kenapa isi buku ini seperti itu,” ucap Zulfa Rosdiani siswa SMAN 2 Selong dengan penuh heran.
Demikian juga dua siswa SMAN 2 Selong, Zahra dan Bani Antalia. Mereka terkejut dan mengaku tidak terima, sebab merasa sebagai perempuan dilecehkan. Baginya, buku ini tidak pantas untuk dibaca anak kecil. Mestinya buku seperti ini, tidak boleh dibiarkan beredar. “Pemerintah harus tegas. Kalau perlu Bupati turun tangan menyelesaikan masalah ini,”kata Zahra. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here