Beranda Lombok Timur Buku Diduga Berkonten Porno Ditarik dari Peredaran

Buku Diduga Berkonten Porno Ditarik dari Peredaran

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA SISA: Tumpukan buku di kantor Unit Dikbud Labuhan Haji, yang salah satunya berjudul Kumpulan Pantun Sasak, yang belum diambil sejumlah sekolah di wilayah ini, kemarin.

LOTIM – Dua judul buku pendamping Muatan Lokal (Mulok) berjudul Kumpulan Pantun Sasak dan Jampi-Jampi Batur Sasak, terpaksa ditarik dari peredaran. Pasalnya, dua buku seyogyanya untuk pegangan guru SD sederajat dan untuk perpustakaan itu, diduga mengandung konten porno.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur (Lotim) menyatakan, buku itu tidak melalui proses verifikasi, dan tak masuk dalam daftar rekomendasi. Namun pengakuan berbeda datang dari dua Kepala Unit (Kanit) Dikbud, yakni Kanit Dikbud Labuhan Haji dan Sikur. Hanya saja, rekomendasi Kadis Dikbud itu sifatnya imbauan. Bukan mewajibkan semua sekolah menggunakan buku tersebut.
Kanit Dikbud Labuhan Haji, Suardi, di kantornya kemarin mengatakan, pekan lalu buku-buku tersebut diketahuinya berisi konten yang tidak layak diketahuinya dari salah satu operator SD. Setelah dicek isinya, ternyata benar tidak layak untuk dikonsumsi siswa. Buku-buku itu, bukan untuk pegangan siswa, tetapi menjadi sumber referensi pendukung guru mengajar muatan lokal dan untuk perpustakaan.
“Saya sudah terima surat dari Dikbud, untuk menarik dua buku itu,” jelasnya.
Kedua judul buku pendamping Mulok ini, sudah melalui proses verifikasi tim Dikbud. Karena dianggap layak, sehingga buku-buku itu dibeli oleh sekolah, menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). “Saya sendiri kalau tidak dapat cerita, saya tidak tahu isinya. Karena yang berhubungan langsung sekolah dengan perusahaan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, di wilayah Dikbud Labuhan Haji, banyak sekolah belum mengambil buku-buku ini dan beberapa buku pesanan lainnya. Karena masih konsen memenuhi buku wajib Kurikulum 2013 (K13). “Perusahaan hanya menitipkan buku di kantor kami, untuk diambil sekolah. Jadi saya ndak pernah sama sekali ngecek isinya, sebelum masalah buku ini mencuat,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Kanit Dikbud Sikur, Yunus di kantor Kanit Dikbud Labuhan Haji, kemarin menegaskan, dua buku ini tidak cocok untuk konsumsi anak. Sekali pun sebagai referensi guru, tapi guru pun juga harus pintar mencerna isi buku tersebut. Mana yang boleh untuk konsumsi siswa dan tidak. Kendati secara budaya, harus dikenalkan apa adanya.
Buku-buku itu beredar disejumlah sekolah, pastinya setelah melalui tim verifikasi dan dianggap layak menjadi referensi. Buku ini ditegaskannya tidak wajib dibeli, lantaran surat diterima dari Dikbud, sifatnya imbauan saja. Artinya boleh pihak sekolah beli dan boleh tidak. “Mungkin tim verifikasi buku ini lupa atau mungkin khilaf. Memang sempat saya konfirmasi penulis, jawabannya ingin memperkenalkan budaya apa adanya. Tapi saya tapi tidak boleh kalau isinya demikian,” tegasnya.
Informasi diterimanya, kedua judul buku ini akan diganti pihak perusahaan. Buku itu akan diganti menggunakan kamus tiga bahasa yakni kamus Sasak, Indonesia dan Inggris. Selain itu, juga diganti menggunakan buku kearifan lokal. “Kalau untuk konsumsi siswa tidak boleh, kalau untuk guru tidak apa-apa,” pungkasnya.
Sebelumnya seperti yang dilansir Radar Mandalika, selain Kadis Dikbud mengaku buku itu tidak pernah melalui verifikasi, juga sudah memerintahkan untuk ditarik peredarannya. Ia juga mengaku kecolongan, karena buku itu masuk sekolah tanpa verifikasi. (fa’i/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here