Beranda Headline Buku Mulok Diduga Berisi Konten Porno

Buku Mulok Diduga Berisi Konten Porno

BERBAGI
IST / RADAR MANDALIKA TARIK: Buku muatan lokal pendamping berjudul Kumpulan Pantun Sasak, yang ditarik peredarannya karena diduga mengandung unsur porno.

LOTIM – Buku muatan lokal (Mulok) diduga berisi konten porno dan beredar di Lombok Timur (Lotim). Buku tersebut digunakan siswa Sekolah Dasar (SD) sederajat dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat, di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim.
Dugaan konten porno dalam buku berjudul Jampi-jampi Batur Sasak ini, karena menyebut kemaluan perempuan. Dikbud tidak menampik, kecolongan atas peredaran buku yang tidak layak untuk menjadi bahan ajar siswa ini.
“Mau dibilang kecolongan, ya kita kecolongan,” terang H Lalu Suandi, Kepala Dikbud Lotim, via ponselnya kepada Radar Mandalika, kemarin.
Informasi beredarnya buku berisi konten porno itu diketahuinya beberapa hari lalu, dari operator salah satu sekolah di Kecamatan Labuhan Haji. Usai menerima laporan, langsung melakukan kroscek terhadap isi buku tersebut. “Setelah kita cek, ternyata buku ini tidak masuk dalam buku-buku yang sudah diverifikasi dan direkomendasikan Dikbud,” jelasnya.
Karena tidak melalui tim verifikasi dan tidak masuk dalam rekomendasi daftar buku yang bisa digunakan sekolah SD dan SMP. Pihaknya melalui bidang terkait, sudah menginstruksikan bersurat kepada pihak penyedia. Penyedia diminta melakukan penarikan buku terbitan Pusakanda tersebut.
“Dari pihak penyedia juga sudah berjanji akan menariknya dari peredaran. Buku pendamping muatan lokal ini, belum banyak beredar di Lombok Timur. Itu setelah kami kroscek di lapangan,” tegasnya.
Penggunaan buku sebagai referensi bahan ajar di sekolah, tidak bisa sembarangan masuk begitu saja. Harus melalui tim verifikasi. Termasuk seperti buku muatan lokal, ada tim verifikasi dari kalangan budayawan yang melakukan pengecekan konten.
“Ada syarat buku yang bisa digunakan guru dan siswa. Salah satunya, buku itu harus melalui International Standard Book Number (ISBN),” tegas Suandi.
Dia mengimbau sekolah lebih berhati-hati dalam memilih buku yang akan digunakan. Disarankan menggunakan buku yang sudah ada dalam daftar rekomendasi Dikbud. “Sekali lagi, buku ini tidak masuk dalam daftar buku yang direkomendasikan tim yang sudah dibentuk Dikbud,” pungkasnya.
Sementara itu, pinak penerbit buku belum bisa dikonfirmasi sampai berita ini diturunkan.  (fa’i/r3/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here