Beranda Headline 2020, Wisatawan Ditargetkan Sampai Danau Segara Anak

2020, Wisatawan Ditargetkan Sampai Danau Segara Anak

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA JALUR : Jalur pendakian Bawak Nau, salah satu dari sejumlah jalur pendakian Rinjani menuju Pos tiga, yang juga mengalami rusak berat pada titik setelah pos tiga.

LOTIM – Tahun 2020 mendatang, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) NTB menargetkan wisatawan bisa sampai ke Danau Segara Anak. Skenario untuk bisa mencapai Danau Segara Anak, akan disiapkan TNGR. Itu jika tim ahli geologi dan vulkanologi sudah selesai melakukan kajian dan menunggu musim penghujan mendatang reda.
Kepala BTNGR NTB, H Sudiono, kepada Radar Mandalika, via ponselnya kemarin mengatakan, berapa dan apa yang akan dibangun, anggaran Gunung Rinjani baru bisa dirancang tahun 2019 mendatang. Namun jika semua proses perbaikan atau pembangunan kembali cepat selesai, diperkirakan bulan September 2020 mendatang, baru pendakian akan bisa normal. Namun itu pun hanya sampai Danau Segara Anak.
“Kalau mau memasukkan wisatawan, bisa kita lakukan. Catatan hanya sampai zona aman. Dan kami saat ini masih sedang memetakan zona aman,” kata Sudiono.
“Kita akan mencarikan potensi wisata yang aman, termasuk jalur aman serta akan dibangunkan sarana dan prasana (Sarpras) yang dibutuhkan,” tambah Sudiono.
Saat ini ucap Sudiono, pihaknya masih melakukan pengolahan data dari Senaru dan Sembalun. TNGR menerjunkan tim turun secara manual. Sementara jalur yang tak bisa dijangkau, digunakan drone. Hasil pengambilan data, diolah oleh tim ahli Geologi dan Vulkanologi. Apakah jalur-jalur pendakian itu layak pakai, atau tidak. Apakah membahayakan pengunjung atau tidak. TNGR melibatkan ahli geologi dan vulkanologi, sebab TNGR sendiri tidak memiliki ahli.
Tim ahli geologi dan vulkanologi masih menggunakan ahli dari daerah ini. Sementara menggunakan ahli dari Bandung Jawa Barat (Jabar), tidak bisa diterjunkan lantaran konsen di Palu dan Donggala Sulawesi Tengah. Di lain pihak, jumlah tim ahli dari daerah ini sangat terbatas untuk melakukan kajian. Mengingat tim ini juga sedang konsentrasi di proses rekonstruksi. Sehingga TNGR kesulitan mencari ahli lain.
“Hari ini (kemarin, red), tim baru turun kembali untuk mengumpulkan data-data yang dibutuhkan. Insya Allah, Selasa mendatang pengolahan data kami targetkan selesai,” tegasnya.
Sejauh ini hasil pengambilan data di lapangan, jalur banyak ditemukan longsor. Namun itu belum bisa disimpulkan apakah dianggap masih layak atau tidak. Bahkan melalui jalur Sembalun, setelah pos 3 ke atas mengalami longsor berat. Namun TNGR tetap akan melihat risikonya seperti apa jalur-jalur tersebut. “Kalau semua data sudah terkumpul, tidak butuh waktu lama sudah bisa disimpulkan. Yang penting, tenaga ahli bisa langsung melakukan kajian dan penilaian,” tegasnya.
“Apakah data yang dibutuhkan ahli cukup atau tidak nanti dilihat. Kalau tidak cukup, tim akan kita naikkan lagi,” sambung Sudiono.
Ia mengungkapkan, pengumpulan data tidak saja dilakukan saat. Tetapi, juga akan melihat seperti apa perkembangan kondisi di atas setelah hujan nanti. Karena kemungkinan bisa jadi setelah hujan nanti, longsoran bisa saja membuat jalan, atau sebaliknya akan menjadi semakin parah. “Yang penting kami berusaha dulu dan action secepatnya. Namun untuk bisa ke puncak, belum bisa kami pastikan seperti apa nanti,” pungkasnya. (fa’i/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here