Beranda Headline Caleg Muda Jangan Takut Lakukan Pencitraan

Caleg Muda Jangan Takut Lakukan Pencitraan

BERBAGI
ilustrasi, para caleg muda harus percaya diri memenangkan pileg 2019 (Kokoh/JawaPos.com)

JAKARTA – Para caleg muda generasi milenial harus berani tampil pada Pemilu 2019. Hal tersebut dikatakan Direktur Eksekutif Centre for Electoral, Hadar Nafis Gumay di depan peserta program Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP) angkatan 8.
Hadar Nafis mengatakan, secara umum yang perlu diingat pemimpin muda adalah harus dapat melakukan konsolidasi. “Jangan sampai pemimpin muda ini terkotak-kota karena peluang untuk menampilkan jati diri semakin rendah,” kata dia.
Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI itu juga sempat menyarankan penggunaan sistem pemilu proporsional terbuka dalam pemilihan anggota legislatif pada pemilu serentak 2019.
Dia lebih setuju masyarakat bisa menentukan langsung siapa wakil rakyat yang mereka inginkan. Sebab, jika pemilu proporsional tertutup, tidak lagi ada nama caleg di surat suara, hanya lambang partai.
“Ini tidak baik, karena jika kita memilih partai, lantas wakil rakyat yang ditentukan oleh partai ternyata orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu kita inginkan,” ujarnya.
Sementara itu, di era yang serba digital, media sosial menjadi salah satu faktor penentu. Jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat signifikan. Peran media sosial tidak dapat dikesampingkan.
“Dunia media sosial bukan lagi dunia yang terpisah karena telah mempengaruhi kehidupan sehari-hari,” kata Direktur Eksekutif Digitroops, Fahd Pahdepie.
Fahd memberikan masukan kepada calon legislatif agar tidak takut disebut melakukan pencitraan. Sebagai bagian untuk meyakinkan publik, upaya pencitraan sangat wajar dan sah dilakukan.
“Pertama yang harus dilakukan, bilang pada diri sendiri kalau itu memang pencitraan. Kenapa kita harus menolak disebut pencitraan padahal itu sah dan boleh dilakukan karena memang ruangnya. Jangan takut dibilang pencitraan,” tegas Fahd.
Akun media sosial menjadi kanal efektif narsisme kepribadian yang pada akhirnya diakui oleh orang lain dalam bentuk ribuan “likes” atau “love”.
Kita tidak bisa lagi memandang bahwa sebuah postingan sebagai pencitraan semata, karena kekuatan media sosial sangat luar biasa dalam menggalang simpati. Namun konten yang diproduksi tentunya tetap harus memiliki nilai positif bagi masyarakat ujar Fahd. (yuz/JPC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here