Beranda Mataram Ketika Sekolah Ceria Hadir di Lokasi Pengungsian

Ketika Sekolah Ceria Hadir di Lokasi Pengungsian

BERBAGI
RIRIN/RADAR MANDALIKA TEMPAT BERMAIN: Sejumlah anak bermain di Sekolah Ceria yang didirikan di Lingkungan Pengempel Indah, kemarin

Jadi Tempat Belajar, dan Bermain Anak-anak Korban Gempa

Lokasi pengungsian di Pengempel Indah masih dihuni warga korban gempa. Anak-anak mereka bisa jadi jenuh di tenda pengungsian, sehingga butuh hiburan.
RIRIN FITRIANA-MATARAM
BANGUNAN sederhana beratap ilalang dibangun di tanah lapang, di lokasi pengungsian korban gempa Lingkungan Pengempel Indah, Kelurahan Bertais, Kecamatan Sanubaya. Di bagian depan tertulis. Sekolah Ceria, bantuan dari Perhimpunan Dokter Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram.
Dinding Sekolah Ceria dibuat dari bambu, sengaja beratap ilalang agar tidak panas. “Sengaja pakai atap alang-alang biar tidak panas. Kalau pakai terpal, panas,” kata Ketua LPA Kota Mataram, Nyayu Ernawati ditemui di lokasi Sekolah Ceria, kemarin.
Dikatakan Nyayu, terdapat 12 sekolah serupa yang didirikan untuk korban gempa. “Dari PERDOSKI kita dapat tiga unit sekolah. Untuk di Mataram, baru pertama ini dari PERDOKSI,” ujarnya.
Selain di Pengempel Indah, Sekolah Ceria juga akan dibangun Monjok, Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Utara (KLU). “Ada permintaan di Monjok karena TK Pertiwi di sana hancur karena gempa,” jelasnya.
Secara keseluruhan, terdapat 10 unit Sekolah Ceria di KLU, Lotim satu unit. Sedangkan Lobar dan Kota Mataram sedang dalam proses pembangunan Sekolah Ceria. Di sekolah ini, anak-anak bisa bermain dan belajar. Manfaat lainnya, bangunan Sekolah Ceria bisa menjadi tempat beribadah. “Ini bisa jadi tempat mengaji, dan bermain anak-anak,” kata dr Farida Hartati SpKK, Ketua PERDOSKI cabang Mataram.
Keterlibatan PERDOSKI dengan membangunkan Sekolah Ceria, menurut Farida, sebagai upaya membantu masyarakat Lombok yang terkena bencana gempa. Selain menggelar bakti social (baksos), PERDOSKI berkerjasama dengan LPA mendirikan Sekolah Ceria. “Ini bisa jadi taman bermain, dan tempat beribadah,” ujarnya.
Di Sekolah Ceria, para pengajarnya berasal dari masyarakat, bersama relawan LPA. Anak-anak juga bisa bermain dengan berbagai alat peraga edukasi yang disediakan. “Bantuan ini satu paket, bangunan, alat-alat, dan buku-buku untuk kegiatan. Nilainya Rp 10 juta per unit sekolah. Bangunan Rp 7 juta, sisanya untuk alat-alat pembelajaran,” ujarnya.
Seorang warga Pengempel Indah, Maesarah mengaku senang dengan didirikannya Sekolah Ceria. Anaknya yang masih balita, selama ini tidak memiliki tempat untuk bermain di lokasi pengungsian. “Senang. Anak saya jadi punya tempat main,” katanya.
Anaknya selama ini sekolah di Taman Kanak-kanak (TK). Sejak gempa, sekolah libur. Otomatis buah hatinya tak bersekolah. “Di sekolah juga nggak bisa main kayak gini,” ujarnya dengan senyum tersungging sembari memperhatikan putri kecilnya bermain di bawah bangunan Sekolah Ceria. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here