Beranda Lombok Barat Kecemasan Keluarga Korban Bencana di Donggala dan Palu

Kecemasan Keluarga Korban Bencana di Donggala dan Palu

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA MENANTI KABAR: Mariah dan keluarganya tengah melihat kondisi bencana di Donggala melalui televisi di kediamannya, kemarin.

Merantau Bekerja ke Sulawesi, Hingga Kini Belum Bisa Dihubungi
Korban bencana gempa dan tsunami di Kabupaten Donggala dan Palu tidak hanya warga setempat. Adapula sejumlah warga Desa Babussalam Lobar yang merantau ke wilayah itu, dan masih hilang kontak.
WINDY DHARMA-LOBAR

MARIAH tak bisa menahan air matanya ketika ditanya kabar sang adik bernama Sapri. Memikirkan peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi di Kabupaten Donggala dan Palu beberapa waktu lalu, membuatnya semakin bersedih.
Sang adik pergi merantau sejak dua tahun lalu ke Donggala, hingga kini tak bisa dihubungi. Rasa cemas dirasakan Mariah dan keluarganya di Dusun Bilekedit Utara, Desa Babussalam, kemarin.
Hampir tiap saat keluarganya terus memantau perkembangan bencana gempa di Sulawesi melalui televisi. Berharap ada sedikit kabar yang menerangkan jika sang adik masih dalam keadaan hidup dan sehat.
Mariah menceritakan kepergian adiknya merantau ke Sulawesi. Dua tahun lalu, adeknya yang berusia 25 tahun itu meminta izin kepada dirinya dan orang tuanya untuk pergi bekerja. Sapri pergi menyusul sepupunya yang lebih dahulu ada di Sulawesi. Selama di Sulawesi, Sapri kerap memberikan kabar. Tentang bagaimana kondisinya di sana, hingga pekerjaan yang tengah digelutinya.
Ketika bencana gempa bumi melanda Lombok beberapa pekan lalu, Sapri setiap saat menghubunginya dan keluarga. Memastikan jika seluruh keluarganya yang berada di Desa Babussalam, baik-baik saja. “Pas gempa di Lombok, saya hubungi adik saya bisa nyambung. Saya tanya dia kerja dimana, dia bilang di Kecamatan Donggala,” ujarnya sembari menujukkan foto sang adik tercinta.
Lega sempat dirasakan karena mengetahui posisi sang adik yang bekerja menjadi buruh, jauh dari laut. Ia pun meminta agar Sapri kembali pulang ke Lombok untuk berkumpul dengan keluarga. Hanya saja, sang adik belum juga pulang. Mendengar kabar bencana melanda Donggala, membuat rasa risau kembali melanda.
Terlebih saat dihubungi, tak ada kabar yang terdengar. Bahkan sepupu yang tinggal di sana hilang kontak. “Sampai sekarang belum bisa dihubungi,” ujarnya.
Kini ia bersama keluarga hanya bisa berharap, anak keempat itu dalam keadaan selamat. Serta bisa segera kembali ke Lombok. “Saya berharap adek saya selamat dan cepat pulang. Keluarga dir umah terus menunggu dan khawatir,” ujarnya.
Sapri ternyata hanya salah satu warga Babussalam yang pergi merantau ke Sulawesi. Terdapat sekitar lima kepala keluarga (KK) yang berada di Sulawesi, bahkan sebagiannya menjadi warga di Mamuju. “Di Donggala ada satu keluarga, Pak Maksun namanya, sama istri dan anaknya tiga. Dan sama sepupunya itu, si Sapri,” ungkap Kepala Desa (Kades) Babussalam, M Zaini.
Menurutnya, keluarga Maksun dan Sapri belum bisa dihubungi hingga kini. Pihaknya sudah meminta Basarnas dan BNPB mencarikan warganya di Donggala itu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here