Beranda Lombok Timur
BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA Muhir

Progres Penanganan Pendidikan Pascabencana di Lotim

Rusak Berat Dibangunkan Sekolah Sementara, Bisa juga PBM di Kelas
Berbagai terobosan dilakukan Dikbud dalam membangkitkan kembali pendidikan daerah ini pascabencana gempa bumi. Bantuan terus mengalir melalui Dikbud, untuk mengatasi sarana pendidikan daerah ini.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

SEBANYAK 206 sekolah di Lombok Timur, terkena dampak langsung akibat bencana gempa bumi. Sekolah-sekolah itu, katagori mengalami rusak berat, rusak sedang dan rusak ringan. Tidak saja ruang kelas yang hancur lebur diporak porandakan goyangan gempa bumi 6,4 skala Ricther (SR) hingga 7,0 SR. Melainkan juga meluluh lantahkan laboratorium SD dan SMP, perpustakaan, rumah dinas dan fasilitas pendidikan lainnya.
Bantuan untuk pendidikan daerah ini, mengalir dari berbagai asal. Seperti dari Kementerian Pendidikan, dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Pemerintah DKI Jakarta, hingga para Nasional General Organisation (NGO). Para pihak terkait, ada yang membooking satu sekolah lengkap dengan perlengkapan lainnya, dan ada pula yang memberikan sumbangan dalam bentuk lain.
Bagi sekolah yang mengalami rusak berat, sudah dibangunkan sekolah sementara menggunakan tenda. Tenda dijadikan tempat Proses Belajar Mengajar (PBM), sembari menunggu pembangunan sekolah sementara dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Setelah sekolah sementara jadi, baru kemudian pemerintah melakukan renovasi total sekolah-sekolah yang hancur.
Sejauh ini, terdapat 70 sekolah lebih yang oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim, sudah menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) dengan pusat. Termasuk juga akan ditangani, salah satu sekolah SD Batu Nampar, yang letaknya di Desa Pene. Sementara 206 lebih sekolah lainnya, masih dalam proses verifikasi.
Bagi sekolah di kecamatan yang tidak terkena dampak langsung, rata-rata sudah mulai PBM di dalam kelas. Baik itu di Kecamatan Selong, Sikur dan wilayah lainnya. Mereka mulai PBM di dalam kelas, setelah Dikbud dan perangkatnya sampai tingkat bawah. Bekerja keras, melakukan trauma healing dan memberikan pemahaman pada siswa, guru dan wali murid. “Alhamdulillah, rata-rata di luar empat kecamatan terkena dampak langsung, sudah kembali PBM di dalam kelas,” kata Muhir, Kabid Pembinaan SD Dikbud Lotim. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here