Beranda Headline Cerita Perajin Kursi Cukli di Desa Jeringgo Lombok Barat

Cerita Perajin Kursi Cukli di Desa Jeringgo Lombok Barat

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA AKTIVITAS: Proses pembuatan kursi setengah jadi yang ada di Desa Jeringgo. Kursi ini nantinya akan dibuat menjadi kerajinan cukli.

Perajin Mulai Bangkit, Sempat Terpuruk Akibat Gempa

Kerajinan kursi cukli di Desa Jeringgo, sempat terhenti paska gempa. Namun kini, kerajinan itu kembali bangkit. Seperti apa?
WINDY DHARMA-LOBAR
KERAJINAN cukli sudah sangat dikenal masyarakat Lombok. Kerajinan khas Lombok yang terbuat dari kayu dengan hiasan potongan kulit kerang kerap dicari. Salah satunya kursi cukli. Sebelum menjadi sebuah kursi yang sering ditempatkan di ruang tamu, terdapat proses panjang yang dilalui dalam pembuatannya. Sentra perajin dasar kursi cukli ini berada di salah satu dusun di Desa Jeringgo, Kecamatan Gunung Sari.
HL Syaiful Bahri, salah satu pemilik usaha pembuatan kerajinan kursi bahan dasar cukli. Bapak lima anak ini sudah hampir 35 tahun menekuni profesinya, membuat kursi cukli setengah jadi. Nantinya, pesanan kursi itu akan dikirim ke perajin cukli untuk dihias menjadi kursi cukli utuh.
“Saya jual setengah jadi ke Sayang-sayang,” ujar pria bergelar haji ini.
Ilmu pembuatan kerajinan kursi dari kayu sudah diwarisi dari orang tuanya. Kini bapak lima anak itu, sudah memiliki pekerja sendiri. Kayu mahoni atau jati yang dibelinya disulap menjadi kursi setengah jadi. Satu paket kursi dijual dengan kisaran Rp 2,5 juta sampai Rp 4 juta. Tergantung dari bahan baku kayu yang dipergunakan.
“Satu paket terdiri drai kursi yang kecil tiga buah, yang besar satu, dan satu meja,” jelasnya.
Ia tidak kesulitan mencari bahan baku. Meski setelah gempa bumi yang menguncang beberapa bulan lalu. Bahan baku seperti mahoni dibeli dari sekitar Gunungsari. Begitu juga kayu jati dibeli di Gunungsari, meski berasal dari Bima.
Penjualan kursi cukli tidak hanya di pasar lokal maupun nasional saja. Bahkan hingga tembus keluar negeri. Beberapa waktu lalu, pembuatan kursi ini sempat terganggu gempa. Para pembuat kursi takut untuk memulai aktifitasnya. Selain beberapa peralatan pembuatan rusak tertimbun reruntuhan bangunan.
Dampaknya, pesanan sepi. Belum lagi pekerja tidak semua keluar untuk bekerja. Omzet yang dahulunya mencapai Rp 40 juta perbulannya. Kini tak sebesar itu lagi.
Kondisi saat ini, sudah lebih baik. Bersama pembuat kursi lainnya di desa itu, ia bisa bangkit kembali.
“Alhamdulillah, Insya Allah kita sudah perlahan bangkit kembali,” katanya.
Harapannya, ada bantuan peralatan dari pemerintah. Sebab sejauh ini, tidak banyak bantuan yang diterimanya paska gempa. “Cuma ada bantuan yang pernah dikasih Menteri Keuangan. Kita berharap bisa dikasih bantuan peralatan karena banyak yang tertimbun,” pungkasnya. (*/r3/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here