Beranda Headline Pemuda NTB Jangan Penonton di Tanah Sendiri

Pemuda NTB Jangan Penonton di Tanah Sendiri

BERBAGI
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA SERAHKAN : Gubernur NTB, Zulkieflimasnyah saat menyerahkan bendera pataka merah putih kepada Ketua PW GP Ansor NTB, Zamroni Aziz. Setelah diserahkan oleh Koordinator Zona Rote, Zakaria Ridwan Puato dalam acara kirab satu negeri GP Ansor, Sabtu (29/9).

Kirab Satu Negeri Dihadiri ribuan peserta

MATARAM – Tujuh bendera pataka merah putih diterima Gubernur NTB, Zulkieflimasnyah dari Koordinator Zona Rote, Zakaria Ridwan Puato. Selanjutnya diserahkan kepada Ketua PW GP Ansor NTB, Zamroni Aziz dalam acara kirab satu negeri GP Ansor, Sabtu (29/9) lalu di Mataram. Seperti diketahui, pelaksanaan kirab satu negeri NTB Bangkit zona Rote untuk daerah NTB dipusatkan di Mataram dihadiri ribuan massa.
Gubernur NTB, Zulkieflimasyah dalam kesempatan itu menegaskan, generasi muda NTB dimasa yang akan datang harus menjadi pemain di tanah sendiri. Generasi muda NTB yang penuh dengan potensi, tidak boleh lagi menjadi penonton di daerah sendiri. “NTB punya tambang emas besar di dunia, tapi harus pergi ke Arab Saudi untuk bisa beli emas. NTB Lumbung pangan nasional, tapi kadang masih ada petani yang susah cari makan. Itu karena kita tidak jadi pemain di tanah kita sendiri,” tegas Gubernur saat memberikan sambutan
Di hadapan peserta kirab, Zul menyampaikan, tekad besarnya kedepan dalam masa lima tahun pemerintahannya, membuat potensi-potensi besar anak muda NTB menjadi pemain di daerah sendiri. Tidak lagi menjadi penonton. Sebagai langkah awal dari cita-cita besarnya tersebut, adalah dengan program pengiriman 1000 pemuda NTB ke luar negeri, yakni Polandia. Tahap pertama dari program tersebut akan diberangkatkan sebanyak 21 orang pada 10 Oktober mendatang. “Ini cita-cita besar saya untuk merubah generasi muda NTB. Walaupun banyak yang mencibir, ini sebagai program mimpi. Tapi saya optimistis itu bisa, karena pemuda NTB orang-orang hebat yang penuh potensi,” ujarnya.
Untuk itu, ia mengajak segenap masyarakat NTB, khususnya Pemuda Ansor untuk dapat memaknai kegiatan Kirab Satu Negeri. Bahwa merah putih sebagai simbol tegaknya NKRI yang dicintai. Merah putih sebagai pengingat atas pengorbanan para pahlawan yang telah memerdekakan bangsa Indonesia, untuk dikenang oleh anak cucu bangsa Indonesia, agar merah putih tetap tegak dalam jiwa muda Indonesia.
Untuk itu Gubernur juga mengajak generasi muda Indonesia, khususnya di NYB agar menghilangkan sikap primordialisme. Karena hal itu akan menjadi penghambat untuk maju. “Kenapa kita tidak boleh bersikap primordial karena kita adalah Indonesia,” tegasnya.
Zul berharap, Kirab Satu Negeri NTB Bangkit akan menjadi penggugah jiwa anak muda NTB untuk mengatakan “Kami bangga pada merah putih, bangga jadi anak Indonesia, sehingga generasi muda NTB akan lahir sebagai pemimpin dunia di masa yang akan datang”.
Sementara itu, Sekjen DPP GP Ansor, Adung Abdul Rahman mengatakan tujuan kirab satu negeri bentuk rasa syukur dianugerahi bangsa Indonesia sedemikian indah. Indonesia yang luas serta majemuk dan kaya budaya bahasa keragaman, pembeda dari bangsa lain di dunia. Hal yang perlu disyukuri, kemajemukan Indonesia dibarengi dengan kedamaian dan sikap toleransi. Tidak ada konflik peperangan. “Kader Ansor keliling Indonesia dalam kirab ini bentuk syukur,” tegas Adung.
Ketua PW GP Ansor, Zamroni Aziz menegaskan, Kirab Satu Negeri di NTB disertakan dengan doa bersama. Bertujuan membangkitkan semangat kebangsaan, terutama dari rasa kesedihan setelah NTB dilanda bencaan gempa belum lama ini. Kegiatan itu juga murni untuk meningkatkan rasa kecintaan terhadap bangsa. Sebagai bentuk kebersamaan dalam keberagaman. “Kita harus bangkit semangat, dan mampu berubah. Insya Allah akan lebih baik lagi,” kata Zamroni.
Di tempat yang sama, Rais Suriah PW NU NTB, Taqiuddin Mansur mengulas sejarah bahwa Mataram menjadi kawasan pengganyangan TKI yang dilakukan pemuda Ansor saat itu. Ansor salah satu gerakan pemuda NU yang hadir membasmi keberadaan PKI saat itu. “Maka hari ini Ansor dan Bansernya kembali melaksanakan apel menegakkan NKRI pada kirab satu negeri ini,” kata Pimpinan Ponpes Al Mansyuriah Taklimusshibyan Bonder itu.
Usai Kirab Satu Negeri dan Doa Bersama untuk NTB Bangkit, dilakukan penandatangan komitmen bersama, dimana masyarakat NTB menjunjungtinggi toleransi antar umat beragama, suku dan ras. Menolak segala bentuk politisasi agama maupun politik identitas yang dapat mencederai persatuan dan kesatauan. Masyarakat NTB berkomitmen mendukung suksesnya pelaksanaan pemilu 2019 yang aman, damai, dan sejuk. Serta menolak adanya penyebaran informasi dan berita hoax. Serta ujaran kebencian yang berpotensi memecahbelahkan. Senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan guna mendukung kondusifitas keamanan nasional menjelang pelaksanaan Pemilu 2019. Memegang teguh dan mengamalkan pancasila, UUD 1945, memelihara keutahan NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. (cr-jho/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here