Beranda Lombok Barat Mengintip Proses Pembuatan Episode Baru Komedak

Mengintip Proses Pembuatan Episode Baru Komedak

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA SHOOTING: Beginilah proses syuting komedak “Kawin Silang” di kantor Desa Senteluk, Kecamatan Batulayar, Sabtu (29/9).

Ajak Kades Berakting, Selipkan Pesan Moral di Setiap Episode

Pembuatan episode baru sinetron komedi dakwah (komedak) sedang berproses. Bagaimana keseruan proses pembuatannya? Berikut liputannya.

WINDY DHARMA-LOBAR
WARGA Lombok, khususnya Lombok Barat (Lobar) tak asing dengan Komedak. Film series bergenre komedi dakwah berbahasa Sasak ini sudah sangat terkenal di Lombok.
Kekocakkan pemeran dan cerita yang mencerminkan keseharian masyarakat Sasak, menambah keseruan film produksi MTs Al-Muslimun NW Tegal Meninting ini. Diselipkan pesan moral agama pada setiap episodenya.
Kini sinetron komedi (sitkom) yang sudah dua kali menjuarai festival film lokal ini tengah membuat episode yang ke 14. Di episode baru ini suasana baru ditampilkan, namun tidak meninggalkan ciri khas dari sitkom ini.
Mengambil lokasi suting di Desa Senteluk Kecamatan Batulayar. Cerita berbeda disuguhkan. Kepala Desa (Kades) Fuat Abdul Rahman turut berperan dalam episode yang berjudul “Kawin Silang” ini.
Keseruan begitu terlihat saat mengintip proses syuting episode ini di kantor Desa Senteluk, Sabtu (29/9). Ini menjadi pengalaman pertama kalinya Kades Santeluk berakting di depan kamera.
Kades tidak menyangka akan ditawari ikut berperan dalam sitkom itu. Cerita yang menarik dan mengambarkan keseharian warga Lombok, membuatnya mengambil tawaran itu. Beberapa kali Fuat salah mengucapkan dialognya. Baginya, lebih sulit berakting daripada berpidato dan diwawancara,
“Memang jauh sulit syuting, harus betul-betul fokus. Kalaupun akting itu harus kelihatan seperti keseharian kita, jadi nggak terlihat kayak dibuat-buat,” ungkap Fuat saat istirahat syuting.
Fuat sendiri salah satu pengemar Komedak. Ia menilai setiap episode ditampilkan menggambarkan kejadian yang pernah, bahkan sering terjadi di kehidupan masyarakat. Penonton yang menyaksikan Komedak ini selalu dapat memetik pesan moral dan pembelajaran di dalamnya. “Harapan kita ke masyarakat yang menonton tidak hanya tertawa, tetapi bisa mengambil hikmah dari peristiwa yang digambarkan di episode ini,” harapnya.
Judul episode Kawin Silang cukup unik di telinga. Sutradara Komedak, Afgan Kusuma Negara terinspirasi dari pengalaman anak didiknya di pondok pesantren Al-Muslimun NW Tegal.
Ia sedikit mengambarkan istilah Kawin Silang itu. Mulai dari perceraian orang tua yang berujung pada pernikahan lagi dengan orang lain. Dimana pasangan yang dinikahinya itu merupakan pasangan dari orang yang juga diceraikan dari pasangan orang lain. Hingga pada akhirnya anak yang menjadi korban diterlantarkan. “Makanya kita buat judul kawin silang,” ungkap Afgan.
Melalui episode ini, ia ingin menyelipkan pesan moral kepada para orang tua yang mirip dengan cerita itu. Untuk memperhatikan anak-anaknya. Sebab para generasi muda memiliki potensi berprestasi. Jika terlantar akan merubah karakter anak itu menjadi nakal. “Kita gambarkan di episode ini, anak itu memiliki potensi. Setelah potensi anak ini keluar, orang tua yang menelantarkan ini jadi saling berebutan untuk mengasuhnya, sampai berkelahi,” ulasnya menceritakan sedikit alur episode ini.
Untuk episode ini, Afgan sengaja bekerjasama dengan pemerintah desa. Sebab permasalahan masyarakat lebih banyak diketahui di desa yang menarik untuk diangkat. Dengan diangkatnya permasalahan yang ada di masyarakat, membuat masyarakat seakan terbawa suasana. “Kita ingin pesan moral dari cerita ini sampai langsung ke masyarakat,” harapnya.
Kedepan tidak menutup kemungkinan desa lain bisa diajak bekerjasama. Selain menyisipkan beberapa program masyarakat di dalam alur ceritanya. Seperti yang pernah dilakukan dengan BKKBN. Mengingat komedak sudah cukup terkenal, baik di media social, youtube maupun stasiun televisi lokal. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here