Beranda Headline Warga Gunungsari-Lingsar Butuh TPS

Warga Gunungsari-Lingsar Butuh TPS

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA KURANG TPS: Ini salah satu TPS yang dimiliki Pemkab Lobar di kawasan Kediri.

LOBAR—Keberadaan Tempat Pembuang Sementara (TPS) menjadi keluhan warga Kecamatan Gunung Sari dan Lingsar. Komisi III DPRD Lobar sering menyuarakan kebutuhan TPS itu ke eksekutif agar segera disikapi. Namun hingga kini belum ada respon.
“Kita minta satu armada pengangkut sampah ditaruh di utara saja. Sekarang sudah direalisasi apa belum, kita tidak tahu,” ujar Ketua Komisi III DPRD Lobar, H Jamhur, kemarin.
Ketiadaan lahan dianggap politisi PKB ini hanya alasan klasik. Bila berbicara lahan, dilihatnya cukup banyak tanah pemda yang tidak produktif. Tinggal melakukan study kelayakan dari lahan yang akan dipergunakan sebagai TPS. “Mereka punya teori sampah sekian ton, tapi solusinya seperti apa. Masak bertahun-tahun mereka tidak bisa pikirkan ini,” kritiknya.
Jamhur setuju jika TPS 3R (Reuse Reduce Recycle) menjadi salah satu solusi alternative untuk mengatasi masalah sampah. Jika sampah dikelola dengan baik, justru akan membawa manfaat. Namun tetap kembali kepada Pemkab, bagaimana cara mengelola sampah ini. Terlebih lagi musim hujan segera tiba. Jangan sampai sampah menimbulkan masalah baru. Seperti banjir dan penyakit malaria. Apalagi masih cukup banyak masyarakat mendiami tenda pengungsian.
“Kalau saya merasa tanggap darurat itu harus dilanjutkan, karena kondisi masyarakat kita ini,” sambungnya.
Mengenai sarana prasarana, cukup banyak bantuan alat pengangkut sampah roda tiga yang diberikan. Hanya, lokasi pembuangan sampah menjadi masalah. Perlu juga diperhatikan upah petugas sampah. “Jauh berisiko bagi yang bekerja di sampah. Ini perlu diperhatikan. Kita harapkan kehadiran dan perhatian pemerintah terhadap masalah sampah,” tegasnya.
Keresahan pun dialami warga Desa Ranjok, Kecamatan Gunung Sari jelang musim hujan. ketiadaan TPS membuat warga bingung harus membuang sampahnya kemana. Pemerintah desa setempat juga dibuat kewalahan mengurus sampah. Masyarakat pun terpaksa membuah sampahnya sembarangan.
Solusi sementara diambil Pemdes setempat. Dengan meminta warganya memilah sampah basah dengan kering. Sampah kering akan dibakar, sampah basah akan coba diurai menjadi pupuk kompos. “Kalau musim hujan bisa naik air, dan banjir kalau dibiarkan (sampah berserakan),” ucap Plt Kades Ranjok, Arbair.
Pemdes siap membayar operasional truk sampah jika Pemkab bersedia mengangkut sampah sebulan sekali. Nantinya seluruh warga membayarkan iuran, agar sampah bisa diangkat dan dibuang. “Kalau iuran seribu-dua ribu rupiah mungkin mau warga,” cetusnya. (win/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here