Beranda Praya Metro Mengikuti Diskusi Publik untuk ‘Menyelamatkan Pemilu 2019’ (2-Habis)

Mengikuti Diskusi Publik untuk ‘Menyelamatkan Pemilu 2019’ (2-Habis)

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA DISKUSI: Para narasumber saat memberikan pemaparannya, Minggu lalu.

Soal Batas Usia, Pemuda Harus jadi Garda Terdepan

Masih soal diskusi publik dengan tema ‘Menyelamatkan Pemilu 2019’. Dalam diskusi itu, para narasumber menyoal juga batas usia para calon Legislatif (Caleg). Sampai dengan sekarang, belum ada aturan soal usia.
DIKI WAHYUDI-PRAYA
YAYASAN Nusra Institute sebagai penyelenggara kegiatan diskusi ini. Minggu itu di D’max Hotel peserta nampak semangat bertanya kepada narasumber. Misalnya kepada Kepala Bakesbagpoldagri NTB, HL Safi’i, dan Wakil Ketua DPRD Lobar, Sulhand Mukhlis.
Dalam pemaparan Safi’i sebelumnya menyampaikan, menjelang Pemilu 2019 pemuda harus jadi garda terdepan menyukseskan pesta demokrasi ini. Pemuda harus ambil bagian dan memberikan pencerahan kepada masyarakat. Jangan justru menjadi pemicu polemik.
“Kalau bapak-bapak tidak bisa, hanya pemuda. Soalnya pemuda lincah ke sana kemari,” katanya, Minggu lalu.
Dalam penyampaiannya juga, Safi’i membeberkan jika tingkat partisipasi warga yang memilih pada Pilgub kemarin cukup tinggi, 75 persen. Bahkan diharapkan pada pemilu berikutnya posisi ini harus bisa dipertahankan bahkan lebih.
“Hanya pemuda yang bisa melakukan ini,” yakin dia.
Soal anggaran Pilgub, Safi’i juga membeberkan. Untuk pilgub menyedot APBD Provinsi NTB Rp 200 miliar lebih. Kalau sampai partisipasi pemilih sedikit, maka daerah ini rugi. Jika dibandingkan, untuk anggaran Pilgub, bisa memperbaiki berapa kilo meter jalan.
“Jadi semua OPD dipangkas anggaranya untuk sukseskan Pilgub,” ceritanya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Lobar Sulhand Mukhlis menjelaskan, demokrasi Indonesia tidak bisa disamakan degan demokrasi di negara maju di Eropa. Untuk itu, kata Sulhand warga Indonesia harus paham mengingat kondisi sumber daya manusia (SDM) belum setara.
“Contoh Amerika Serikat (AS), tidak mungkin bisa kita samakan sistem demokrasi kita,” ujarnya.
Salain itu, masalah yang belum juga selsai sampai sekarang soal batas usia orang menjadi Caleg. Sampai dianggap mampu orang tersebut masih bisa mencalonkan diri. Untuk itu, wajar jika tempat bagi kaum pemuda berbuat di pemerintahan masih kecil. Sementara niatnya begitu besar. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here