Beranda Mataram Dari Diberlakukan Sistem Rujukan Berjenjang BPJS Kesehatan

Dari Diberlakukan Sistem Rujukan Berjenjang BPJS Kesehatan

BERBAGI
RIRIN/RADAR MANDALIKA MULAI BERKURANG: Kunjungan pasien di poliklinik di RSUD Kota Mataram berkurang diberlakukannya system rujukan berjenjang oleh BPJS Kesehatan.

Kunjungan Berkurang Hingga 60 Persen, Pasien Merasa Dirugikan

Sistem rujukan berjenjang mulai diterapkan BPJS Kesehatan. Pasien dari faskes pertama, harus dirujuk ke rumah sakit tipe D, kemudian C, dan terakhir B.

RIRIN FITRIANA-MATARAM

JAM menunjukkan pukul 11.00 Wita. Suasana di poliklinik RSUD Kota Mataram tak tampak seramai biasanya. Banyak kursi di ruang tunggu poliklinik yang kosong. Biasanya, nyaris ada kursi kosong. Semua penuh oleh pengunjung.
Data pihak RSUD, hingga pukul 11 siang kunjungan pasien ke poliklinik sebanyak 334 orang. “Kunjungan itu tersebar di 19 poli. Jumlah itu belum masuk yang ambil antrean. Tapi belum dilayani,” kata Dirut RSUD Kota Mataram, L Herman Mahaputra.
Ia mengaku, sejak pemberlakuan system rujukan berjenjang oleh BPJS Kesehatan per tanggal 24 September lalu, tingkat kunjungan ke RSUD menurun hingga 60 persen. “Biasanya sehari sampai 600an orang,” imbuh pria yang akrab dipanggil Dokter Jack ini.
Jack berbicara dalam posisi juga sebagai Ketua Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) NTB. Dengan system itu, ia merasa akan merugikan pasien. Apalagi jika pasien dirujuk ke RS tipe D atau C. Di NTB, RS dengan tipe B hanya tiga. Yakni RSUP NTB, RSUD Kota Mataram, dan RSJ Mutiara Sukma. Sisanya merupakan RS tipe C dan D. jumlah itu dari total 17 RS yang masuk sebagai anggota PERSI. System rujukan berjenjang sebenarnya bagus. Tapi dalam penerapannya belum ada koordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Sebagai rumah sakit, ia lebih memandang pada sudut pelayanan yang didapatkan masyarakat. Dengan diberlakukannya sistem ini, harus pula diperhatikan mutu dari pelayanan. Kemudian akses yang harusnya diberikan lebih mudah ke pasien. Poin lain yang harus menjadi perhatian BPJS adalah kondisi sarana prasarana, dan akses. Kemudian pasien safety atau rasa aman terhadap pasien. “Pasien safety itu mutlak. Pasien harus dapat jaminan keamanan dan keselamatan,” tegasnya.
Tidak kalah penting adalah pasien center. Artinya masyarakat harus mendapat informasi yang jelas dari pihak RS. “Pasien memilih (RS tipe B, Red) karena merasa jelas ada dokternya. Sedangkan RS tipe C atau D masih kurang sumber daya manusianya,” sebutnya.
Usulannya, system dikaji ulang sebelum diterapkan. Jangan merugikan masyarakat yang harus mondar mandir demi mendapat rujukan, ternyata di tempat rujukan tak sesuai harapan.
Seorang warga merasakan langsung dampak system ini. Lingga, merasa dirugikan karena dari puskesmas dirujuk ke RS tipe D, yang disangsikannya memiliki tenaga dokter spesialis. “Saya mau dirujuk ke RS Antonius, tapi saya tidak mau,” keluhnya.
Pola ini disebutnya, membuat pasien makin repot dan ribet. Jika sebelumnya bisa langsung ke RS milik pemerintah dengan tipe B, yang notabene memiliki beralatan maupun tenaga medis yang lengkap, kini tak bisa lagi. Harapannya, BPJS jangan terlalu birokrasi menerapkan aturan. Melainkan, lihat juga bagaimana kondisi di masyarakat. “Pakai pola yang dulu saja lebih memudahkan,” sarannya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here